Akhiri Genosida di Gaza dengan Jalan Mendepak Timnas Sepak Bola Israel dari FIFA

Spanduk bergambar bendera Palestina dan pesan "Hentikan Genosida" dipajang di stadion San Mamés sebagai persiapan Final Liga Champions Wanita UEFA yang menampilkan FC Barcelona dan Olympique Lyon. (Foto: X/@PalHighlight)

JAKARTA — Tamir Sorek, Profesor Kajian Sejarah Timur Tengah di Penn State University, menyampaikan pandangannya mengenai konflik Israel dan Palestina dalam konteks sepak bola dan sanksi internasional.  Dalam tulisan kolom di Haaretz (27/5) berjudul “Kicking Israel Out of FIFA Could Help End the Gaza War,” Sorek menilai langkah Palestina untuk mencoba menangguhkan keanggotaan Israel dari FIFA memiliki signifikansi yang mendalam.

Tindakan ini, menurut Sorek, bukan hanya sekadar aksi politik tetapi juga merupakan bentuk sanksi budaya yang dapat memberikan dampak luas. Penulis buku Nasionalisme Palestina di Lapangan Hijau, Sejarah Ringkas Sepak Bola Arab-Palestina di Wilayah Kekuasaan Israel (terbitan Kepik Ungu, 2010) itu juga menyorot bagaimana sejarah dan situasi politik serupa telah memainkan peran dalam mempengaruhi opini publik dan kebijakan di masa lalu, khususnya mengacu pada era Apartheid di Afrika Selatan. Dalam konteks tersebut, partisipasi dalam kegiatan olahraga internasional dan sanksi yang menyertainya bisa menjadi alat yang efektif untuk mempengaruhi perubahan sosial dan politik.

Menurut Sorek, boikot terhadap tim nasional sepak bola Israel bukan hanya sekadar tindakan diplomatik, tetapi juga mengirim pesan yang kuat bahwa tindakan yang diambil oleh pemerintah Israel dalam konflik dengan Palestina memiliki konsekuensi global.

“Boikot tim nasional sepak bola Israel mengandung pesan bahwa harus ada perlakuan yang tidak biasa, ada harga yang harus dibayar atas kejahatan Israel terhadap kemanusiaan dan bahwa rezim apartheid adalah tidak sah,” tulisnya.

Bacaan Lainnya

Reaksi awal dari media dan sebagian besar masyarakat terhadap penangguhan ini mungkin akan ditandai dengan teriakan “antisemitisme!”, namun dalam jangka panjang, kita mungkin melihat pemimpin Israel yang berjanji akan mengembalikan negara itu ke arena sepak bola internasional, sekaligus menggantikan pendudukan, visi mesianik, dan kecemasan eksistensial dengan kegiatan menyenangkan bersama keluarga dan teman-teman serta sorakan gembira atas gol yang tercipta.

Dengan latar belakang akademis yang kaya dan pengalaman dalam mempelajari dinamika konflik Timur Tengah, pandangan Sorek memberikan perspektif mendalam mengenai cara pandang internasional terhadap konflik Israel-Palestina dan bagaimana olahraga, khususnya sepak bola, dapat menjadi arena pertarungan simbolis dan literal dalam konflik tersebut.

Tim nasional sepak bola Israel, diketahui, terancam dibekukan atau dikeluarkan sebagai anggota FIFA. Hal ini merupakan buntut tuntutan dari federasi sepak bola sejumlah negara. Melansir dari Reuters, FIFA sampai harus menggelar rapat darurat pada Jumat (17/5/2024) lalu untuk membahas proposal Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) yang menuntut pemberian sanksi kepada Israel atas agresi militer di Gaza. Rapat darurat digelar di tengah FIFA menggelar Kongres FIFA Ke-74 yang berlangsung di Bangkok, Thailand.

Dalam rapat darurat FIFA, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menuturkan pihaknya akan melakukan ‘penilaian hukum’ atas masalah tersebut yang bersumber dari proposal PFA. Infantino menyatakan bahwa FIFA akan melibatkan para ahli hukum independen untuk menganalisis tuntutan Palestina karena “sensitivitas masalah”.

Pos terkait