Adhi Dharma Wibawa, Profesor Pertama FKK ITS yang Menyigi Sinyal Otak

Prof Dr Ir Adhi Dharma Wibawa ST MT (berbatik) mempraktikkan penggunaan alat electroencephalogram (EEG). Foto:Dok Humas ITS
Senyum lebar mengembang di wajah Adhi Dharma Wibawa. Di ruang orasi ilmiah pengukuhannya, pria kelahiran Surabaya, 5 Mei 1976 itu resmi menyandang gelar Guru Besar ke-266 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Istimewanya, ia menjadi profesor pertama yang lahir dari Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) ITS.

____________

Bukan jalur mudah yang ditempuh alumnus Teknik Elektro ITS itu. Ketertarikannya pada “bahasa sunyi” otak manusia mengantarkannya menekuni dunia pengolahan sinyal otak. Dari ruang-ruang laboratorium, ia merintis riset yang belakangan diyakini punya masa depan cerah bagi kesehatan dan teknologi bangsa.

”Setiap otak manusia memiliki sekitar 170 miliar sel yang terus berkomunikasi lewat sinyal listrik,” tutur Adhi dalam orasinya yang bertajuk Pemanfaatan Sinyal Otak untuk Menunjang Inovasi Neuroteknologi bagi Kemajuan Bangsa. “Sinyal itu bisa kita tangkap dengan electroencephalogram (EEG) dan diolah untuk memahami respons otak lebih dalam.”

Bacaan Lainnya
Baca Otak, Olah Data

Dengan kemeja batik sederhana, Adhi mempraktikkan bagaimana alat EEG menangkap gelombang listrik dari permukaan kepala. Sinyal yang semula tampak rumit kemudian dipilah lewat pendekatan komputasional terintegrasi. Ada tiga tahap utama yang ia kembangkan: pra-pemrosesan untuk mengurangi gangguan, ekstraksi fitur multilevel, hingga representasi visual yang memudahkan interpretasi kondisi otak.

Tak berhenti di situ, Adhi membuat terobosan dengan menggabungkan berbagai domain fitur. Mulai domain waktu (mean), frekuensi (power spectral density), hingga kompleksitas sinyal (entropi). Cara ini memungkinkan pembacaan kondisi mental—stres, kelelahan, hingga respons emosional—dengan lebih akurat. ”Dengan ekstraksi fitur ini, kita bisa melihat peta otak manusia lebih jelas. Bahkan stres bisa terdeteksi,” ujar Adhi seperti dilansir laman ITS, Rabu, 27 Agustus 2025.

Dari Ruang Medis hingga Neuromarketing

Sebagai Wakil Dekan FKK ITS sekaligus Ketua Tim Pendirian Prodi Teknologi Kedokteran, Adhi melihat sinyal otak bukan sekadar data ilmiah. Ia melihat peluang besar.

Di bidang kesehatan, teknologi ini bisa mendeteksi epilepsi lebih dini, memantau kualitas tidur, hingga mendukung rehabilitasi pasien stroke. “Dokter akan terbantu karena pengambilan keputusan jadi lebih cepat dan tepat,” jelas ayah dua anak itu.

Sementara di luar kesehatan, risetnya merambah dunia neuromarketing. Gelombang otak konsumen bisa merekam respons emosional terhadap produk. “Dari sana pelaku usaha bisa menilai apakah sebuah produk diterima atau tidak,” ungkapnya.

Tak berhenti di ranah medis dan ekonomi, ia juga melihat prospek bagi pendidikan dan psikologi. Bagi Adhi, sinyal otak adalah pintu masuk bagi banyak inovasi.

SDGs dan Harapan Besar

Lelaki berusia 49 tahun itu percaya risetnya sejalan dengan tujuan besar dunia. Yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3 tentang kesehatan yang baik serta poin ke-9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur.

Baginya, ilmu tidak boleh hanya berhenti di laboratorium. “Saya ingin riset ini jadi solusi praktis. Bukan hanya tulisan ilmiah, tetapi sesuatu yang benar-benar membantu masyarakat,” tandasnya.

Kini, di balik titel panjangnya—Prof Dr Ir Adhi Dharma Wibawa ST MT—terselip obsesi sederhana: membawa bahasa misterius sinyal otak menjadi bahasa teknologi yang nyata, yang bisa meningkatkan kualitas hidup manusia.

Pos terkait