BMKG: Hujan di Jatim Dipicu OMC, Bukan Tanda Musim Hujan

Hujan lokal di Jawa Timur dipicu operasi rekayasa cuaca, bukan penanda awal musim hujan di tengah kemarau panjang. (Ilustrasi)

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyebut hujan di beberapa wilayah dipicu oleh Operasi Modifikasi Cuaca, sehingga bukan menjadi penanda datangnya musim hujan.

Sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk Surabaya, diguyur hujan di tengah kemarau yang masih berlangsung. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyebut hujan di beberapa wilayah dipicu oleh Operasi Modifikasi Cuaca, sehingga bukan menjadi penanda datangnya musim hujan.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan mengatakan OMC menyasar sejumlah wilayah. Di antaranya Sidoarjo, Probolinggo, sebagian Pasuruan, Malang, dan sebagian Bondowoso.

Mengutip informasi dari laman resmi BMKG, Operasi Modifikasi Cuaca merupakan upaya mengelola sumber daya air di atmosfer dengan memanfaatkan parameter cuaca.

Bacaan Lainnya

Operasi ini dilakukan untuk meningkatkan atau menurunkan intensitas curah hujan di wilayah tertentu sesuai kebutuhan. Misalnya untuk membantu mengatasi kekeringan atau mengurangi risiko bencana akibat hujan berlebih.

Pelaksanaan OMC membutuhkan analisis meteorologi dan pemantauan kondisi atmosfer. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan strategi operasi, termasuk memilih awan yang berpotensi menjadi sasaran penyemaian.

Dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Jawa Timur, OMC dilakukan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah sasaran. Pemerintah juga menambah dukungan operasi udara dengan mengerahkan satu pesawat modifikasi cuaca dari Kalimantan Barat ke Jawa Timur.

Cara Kerja Penyemaian Awan

Salah satu teknik yang digunakan dalam OMC untuk meningkatkan peluang hujan adalah penyemaian awan atau cloud seeding. Teknik ini memanfaatkan awan yang sudah terbentuk secara alami dan memiliki kondisi atmosfer yang sesuai.

Pemantauan kondisi atmosfer dan radar cuaca menjadi dasar dalam menentukan awan sasaran penyemaian. Hasil pengamatan dan analisis meteorologi digunakan untuk menyesuaikan strategi operasi dengan perkembangan cuaca setempat.

Pada awan yang sesuai, tim melakukan penyemaian menggunakan natrium klorida atau garam. Penyemaian ini membantu proses pertumbuhan butiran air di dalam awan sehingga peluang terjadinya hujan meningkat. Keberhasilannya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan awan yang tersedia.

Dalam penanganan kabut asap karhutla, BMKG juga menggunakan dry ice atau es kering untuk membantu mengganggu lapisan inversi atmosfer. Lapisan inversi merupakan kondisi ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu.

Kondisi ini dapat menghambat pencampuran udara secara vertikal, yaitu pergerakan dan percampuran udara ke atas dan ke bawah, sehingga asap tertahan di dekat permukaan.

Es kering yang disemai mengalami sublimasi, yakni perubahan langsung dari wujud padat menjadi gas. Proses ini menimbulkan pendinginan yang diharapkan membantu membuka kembali aliran konveksi atau gerakan udara ke atas, sehingga asap dapat naik dan terurai di atmosfer.

Melemahnya lapisan inversi diharapkan membantu sinar matahari menembus atmosfer dan mendukung konveksi serta pembentukan awan hujan. Apabila tersedia awan potensial, tim dapat melakukan penyemaian menggunakan natrium klorida.

Dengan demikian, penggunaan es kering merupakan penanganan khusus sesuai kondisi atmosfer, bukan tahapan wajib dalam setiap OMC untuk memicu hujan.

Sasaran dan Batasan OMC

OMC di Jatim dilakukan untuk membantu mengatasi kekeringan berkepanjangan dan kebakaran hutan dan lahan. Operasi ini melibatkan sejumlah instansi, termasuk BMKG, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta BPBD Jawa Timur.

Taufiq mengatakan penerbangan untuk OMC memiliki jalur khusus yang diarahkan ke sejumlah wilayah sasaran. Menurutnya, hujan di Pasuruan dan Probolinggo berkaitan dengan operasi yang dilakukan di kawasan tersebut.

Selain itu, OMC juga telah dilakukan di Malang dan sebagian Bondowoso. Sementara itu, wilayah Mataraman belum menjadi sasaran operasi pada saat keterangan tersebut disampaikan.

OMC diharapkan dapat meningkatkan peluang turunnya hujan di titik-titik yang membutuhkan tambahan air, terutama wilayah yang terdampak kekeringan dan berisiko mengalami karhutla.

Tidak semua hujan di Jatim dapat langsung dikaitkan dengan OMC. BMKG memang menyatakan hujan di sejumlah wilayah sasaran dipicu oleh operasi tersebut. Namun, hubungan antara OMC dan hujan perlu dilihat berdasarkan lokasi, waktu pelaksanaan, serta hasil pemantauan meteorologi.

OMC memanfaatkan awan yang terbentuk secara alami dan memengaruhi proses fisis di dalamnya. Karena itu, keberadaan awan yang memenuhi syarat meteorologis menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan operasi.

BMKG juga memprediksi musim kemarau di Jawa Timur berlangsung lebih panjang akibat pengaruh El Nino. Berdasarkan analisis pada akhir Oktober 2026, sebanyak 68 dari 74 zona musim atau sekitar 90,6 persen wilayah Jawa Timur diperkirakan baru memasuki musim hujan pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan