Danantara mengonfirmasi pembelian saham dan membuka peluang investasi lanjutan. Keputusan disebut berorientasi keuntungan, sementara rincian transaksi belum diumumkan.
Danantara mengonfirmasi telah membeli saham perusahaan yang dinilai menarik setelah pasar Indonesia tertekan rencana perubahan klasifikasi oleh MSCI.
Direktur Investasi Danantara Pandu Sjahrir menyampaikan hal itu dalam pengarahan pers, Kamis, 22 Oktober 2026, seperti diberitakan Reuters.
Pandu mengatakan pembelian dapat berlanjut selama harga saham menarik dan perusahaan memiliki potensi kuat. Ia juga menyebut sejumlah perusahaan yang dikendalikan negara memiliki fundamental baik.
Hingga Jumat, 23 Oktober 2026, laporan yang ditelusuri belum merinci nama emiten, jumlah saham, nilai transaksi, maupun tanggal pembelian.
Investasi Komersial atau Penyangga Pasar?
“Kami selalu berorientasi pada keuntungan. Dari perspektif risiko dan imbal hasil, kondisinya terlihat baik sekarang,” kata Pandu, diterjemahkan dari laporan Reuters.
Pernyataan tersebut menempatkan pembelian saham sebagai keputusan investasi berdasarkan penilaian bisnis dan harga, bukan pengumuman mandat khusus untuk menjaga indeks.
Menurut The Business Times, Pahala Mansury dari Danantara menjelaskan bahwa lembaganya bekerja melalui manajer investasi dalam memilih saham.
Sebelumnya, Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management Rani Piputri juga mengatakan pembelian saat pasar tertekan bergantung pada kelayakan investasi.
Dalam wawancara Reuters yang diterbitkan pada 9 Oktober, Rani menyebut tujuan pembelian saham adalah memperoleh nilai investasi, bukan menstabilkan pasar.
Saat itu, unit investasi publik Danantara telah menanamkan sekitar USD 3 miliar pada saham dan obligasi domestik maupun luar negeri.
Lembaga tersebut merencanakan tambahan investasi sekitar USD 1 miliar hingga akhir 2026, bergantung pada kondisi pasar.
Angka itu merupakan rencana investasi yang disampaikan sebelumnya. Nilainya tidak dapat disamakan dengan dana yang telah digunakan untuk membeli saham setelah tekanan MSCI.
Apa yang Dipersoalkan MSCI?
MSCI membuka konsultasi pada 15 Oktober 2026 mengenai usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar tersendiri atau standalone market.
Dalam pengumuman resminya, MSCI menyoroti ketidakjelasan struktur kepemilikan, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta belum terlihatnya penegakan aturan yang bermakna.
MSCI mengakui pemerintah telah mengumumkan reformasi. Namun, investor institusional menginginkan bukti penerapan yang konsisten dan dampak perbaikan yang berkelanjutan.
Menurut laporan Reuters pada 19 Oktober, gelombang penjualan setelah pengumuman tersebut menghapus sekitar USD 65 miliar nilai pasar saham dalam sehari.
MSCI menerima masukan peserta pasar hingga 30 April 2027. Keputusan akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
Tanggal April tersebut merupakan batas konsultasi. Hingga kini, perubahan klasifikasi masih berupa usulan, meskipun MSCI menyatakan berniat melanjutkannya tanpa bukti perbaikan yang jelas.
Pembelian Danantara menunjukkan lembaga itu melihat peluang di tengah tekanan harga. Namun, transaksi tersebut belum menjawab persoalan tata kelola yang disampaikan MSCI.
Untuk menilai hasil investasinya, informasi mengenai dasar valuasi, pengelolaan risiko, konflik kepentingan, dan kinerja portofolio menjadi penting.
Tanpa rincian tersebut, besarnya kontribusi pembelian Danantara terhadap pemulihan pasar maupun keuntungan investasinya belum dapat dinilai. ***





