Bursa Efek Indonesia akan menghapus pengaruh 80 saham berkepemilikan terkonsentrasi dari penghitungan IHSG. Simulasi analis menunjukkan indeks dapat berubah drastis tanpa ada kenaikan harga saham di pasar.
Bursa Efek Indonesia atau BEI akan mengeluarkan 80 saham berkategori high shareholding concentration (HSC) dari penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan. Kebijakan tersebut diumumkan setelah BEI bertemu dengan penyedia indeks global MSCI pada Senin, 19 Oktober 2026.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan saham-saham tersebut tetap tercatat dan dapat diperdagangkan. Namun, kenaikan atau penurunan harganya tidak lagi memengaruhi IHSG setelah kebijakan berlaku.
“Untuk memberikan gambaran pergerakan IHSG yang lebih wajar, kami akan mengeluarkan seluruh saham HSC dari IHSG,” kata Jeffrey.
BEI belum mengumumkan tanggal penerapannya.
Kepemilikan Utama Mencapai 99,99 Persen
Data yang diperbarui hingga Selasa pagi, 20 Oktober 2026, menunjukkan 80 saham HSC tersebut masuk daftar BEI per 13 Oktober. Pemegang saham utama menguasai 92,6–99,99 persen saham pada masing-masing emiten, dengan median penguasaan mencapai 98 persen.
Daftar tersebut antara lain mencakup PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII).
Pada pembaruan Oktober, BEI menambahkan 19 emiten ke dalam daftar HSC dan mengeluarkan dua emiten. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) masuk setelah sejumlah pemegang sahamnya secara agregat menguasai 96,62 persen saham. Pada PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), tingkat konsentrasinya mencapai 95,58 persen.
BEI menyebut 80 saham tersebut memiliki bobot sekitar 18 persen dalam penghitungan IHSG. Angka itu berbeda dengan kontribusinya terhadap kapitalisasi pasar.
Data BEI menunjukkan 63 saham HSC menyumbang sekitar 28,8 persen dari seluruh kapitalisasi pasar pada akhir September. Nilai transaksi hariannya sekitar Rp837 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan transaksi harian seluruh pasar yang mencapai Rp15,5 triliun.
Artinya, kapitalisasi kelompok saham HSC relatif besar, tetapi likuiditas perdagangannya terbatas. Angka bobot indeks, kapitalisasi pasar, dan nilai transaksi tidak dapat dibaca sebagai ukuran yang sama.
Kenaikan Indeks Hanya Perubahan Penghitungan
Samuel Sekuritas Indonesia menyimulasikan IHSG dapat naik 18,6 persen menjadi 5.925 apabila seluruh saham HSC dikeluarkan dari penghitungan indeks. IHSG sebelumnya ditutup turun 3,64 persen ke posisi 4.996,60 pada Senin.
Namun, angka 5.925 bukan proyeksi kenaikan pasar. Perubahan tersebut dapat terjadi secara mekanis karena saham-saham yang sedang menekan indeks tidak lagi dihitung. Harga aset milik investor tidak otomatis meningkat.
Perubahan komposisi juga membuat posisi IHSG sebelum dan sesudah kebijakan tidak sepenuhnya dapat dibandingkan secara langsung. Kebijakan itu mengubah metode penghitungan indeks, bukan harga saham yang diperdagangkan.
Kebijakan ini disiapkan setelah MSCI menilai Indonesia belum menunjukkan kemajuan yang memadai dalam transparansi kepemilikan, pembentukan harga, dan penegakan aturan pasar.
Peringatan MSCI pada 16 Oktober memicu aksi jual yang menghapus sekitar USD65 miliar kapitalisasi pasar dalam sehari.
Selain mengeluarkan saham HSC, BEI akan mencantumkan status afiliasi dalam publikasi pemegang saham dengan kepemilikan minimal satu persen. Informasi itu akan menunjukkan apakah pemegang saham tertentu mempunyai hubungan dengan pengendali atau pihak lain dalam perusahaan.
Daftar final emiten dan tanggal efektif kedua kebijakan tersebut belum diumumkan secara resmi. BEI juga belum membuka hasil terperinci pertemuannya dengan MSCI.***





