Organisasi Kesehatan Dunia meluncurkan panduan deinstitusionalisasi pada Hari Kesehatan Mental Sedunia, Sabtu (10/10). Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres mengatakan lebih dari 80 persen negara masih memusatkan layanan di rumah sakit jiwa.
Tema kampanye 2026 berbunyi “Lived experiences heard: real voices, real change”. Organisasi Kesehatan Dunia meminta orang dengan pengalaman langsung, atau people with lived experience, dilibatkan dalam kebijakan dan layanan, bukan hanya diminta bercerita. Naskah asal menuliskan kepanjangan istilah itu secara keliru.
Pengalaman langsung adalah apa yang dialami seseorang sendiri, terutama bila memberi pemahaman yang tidak dimiliki orang yang hanya mendengar atau membaca tentangnya. Keterlibatan bermakna berarti ikut memengaruhi keputusan, merancang layanan, memperkuat dukungan sebaya, menantang stigma, dan menagih akuntabilitas.
Dari Lembaga ke Komunitas
Salah satu prioritas adalah memindahkan perawatan dari rumah sakit jiwa jangka panjang ke layanan berbasis komunitas. Lembaga cenderung mengisolasi dan sering dikaitkan dengan perawatan berkualitas rendah, pemaksaan, serta pelanggaran hak asasi manusia.
Panduan praktis yang diluncurkan organisasi itu membantu pimpinan rumah sakit jiwa mengurangi penerimaan dan lama rawat, mengubah praktik di dalam lembaga, serta mendukung kepulangan yang berkelanjutan. Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan orang tidak seharusnya melepaskan kebebasan dan martabat demi dukungan kesehatan mental.
Angka yang Belum Bergeser
Atlas Kesehatan Mental organisasi itu mencatat hanya 9 persen negara pelapor yang sudah sepenuhnya beralih ke perawatan komunitas. Lebih dari setengah, 53 persen, masih di tahap awal reformasi. Lebih dari satu dari empat orang yang masuk rumah sakit jiwa, atau 28 persen, tinggal lebih dari enam bulan.
Kantor regional organisasi itu menyebut lebih dari 1 miliar orang hidup dengan kondisi kesehatan mental, yang menyumbang 1 dari 6 tahun yang dijalani dengan disabilitas. Laporan lain menuliskan hampir 1 dari 7 orang. Angka itu tidak disamakan di naskah ini karena sumbernya berbeda.
Hari Kesehatan Mental Sedunia pertama kali diperingati pada 10 Oktober 1992 atas inisiatif Federasi Kesehatan Mental Dunia. Kampanye tahun ini menutup dengan ajakan membangun sistem bersama orang yang memiliki pengalaman langsung, bukan hanya untuk mereka.***





