Pakar lingkungan laut ITS menyebut angin tenggara 18–20 knot dan gelombang hingga 2 meter di sekitar Masalembu. Ia menekankan penyebab tenggelamnya kapal masih menunggu investigasi.
Pakar lingkungan laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kriyo Sambodho memaparkan kondisi perairan di sekitar lokasi tenggelamnya KM Virgo Transport 8. Ia mencatat angin tenggara sekitar 20 knot dengan hembusan hingga 30 knot serta gelombang signifikan 1,9–2,0 meter.
Dosen Departemen Teknik Kelautan ITS itu mengatakan perairan Kepulauan Masalembu dinamis karena dipengaruhi angin muson dan transformasi gelombang. Berdasarkan data yang tersedia, kondisi itu termasuk cuaca laut yang tidak menguntungkan, tetapi tidak masuk kategori cuaca ekstrem menurut klasifikasi BMKG.
“Ketinggian gelombang yang mencapai 2 meter saat itu sangat mungkin membuat kapal tidak stabil,” kata Kriyo, Kamis, 17 September 2026.
Data hidrometeorologi di sekitar lokasi menunjukkan angin tenggara 18–20 knot sepanjang periode pengamatan, dengan hembusan 27–30 knot. Gelombang signifikan meningkat dari sekitar 1,7 meter menjadi 2 meter. Periode gelombang 7–8 detik dari arah tenggara. Arus permukaan sekitar 1,0–1,2 knot ke barat.
Pemeriksaan Teknis Masih Dibutuhkan
Menurut Kriyo, selain tinggi gelombang, arah angin dan gelombang terhadap posisi kapal dapat memengaruhi respons kapal di perairan terbuka. Apabila ada dugaan air masuk ke kapal, salah satu bagian yang perlu diperiksa adalah pintu landasan atau ramp door sebagai akses kendaraan dan muatan.
Kemungkinan gangguan mesin juga tidak dapat diabaikan. Ia menekankan berbagai kemungkinan itu belum dapat dijadikan kesimpulan sebelum investigasi selesai.
Kriyo mengingatkan tragedi itu tidak dikaitkan dengan sebutan Segitiga Bermuda Indonesia untuk perairan Masalembu. “Penyebab kejadian perlu ditelusuri berdasarkan kondisi lingkungan, teknis kapal, serta hasil investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.***





