Potensi Anak Krakatau Ulangi Letusan 1883 Versi Pakar ITB

Gunung Anak Krakatau. (Shutterstock)

Kajian geokimia Institut Teknologi Bandung menunjukkan komposisi magma Gunung Anak Krakatau masih berjenis andesitik, sehingga belum mampu memicu letusan dahsyat seperti pada 1883.

I Gusti Bagus Eddy Sucipta, peneliti Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB), menyebut kantung magma Gunung Anak Krakatau belum mampu mengulangi letusan dahsyat 1883. Hal ini merujuk pada hasil analisis abu vulkanik.

“Butuh waktu lebih lama bagi sistem vulkaniknya untuk kembali mengumpulkan energi sebesar kakek buyutnya,” kata Eddy merujuk pada temuan riset tersebut, seperti dikutip dari publikasi FITB ITB.

Kajian bersama Keisha Prilia Qayyima dan Rudy Lesmana ini berfokus pada analisis geokimia. Mayoritas fragmen gelas vulkanik erupsi ditemukan mengandung silika (SiO2) di kisaran 55,2 persen sampai 61,1 persen.

Bacaan Lainnya

“Komposisi tersebut mengategorikan abu Anak Krakatau dalam kelompok batuan andesitik. Bukti ini dinilai relatif melegakan untuk mitigasi bencana,” tutur para peneliti dalam laporan resminya.

Evolusi Karakter Letusan

Sebelumnya, letusan Gunung Anak Krakatau terus berevolusi sejak awal kemunculannya. Pola letusan awal didominasi tipe Surtseyan yang eksplosif karena dorongan uap panas dari interaksi air laut dan magma.

Tipe letusan kemudian bergeser menjadi Strombolian dan Vulcanian. Fase ini ditandai oleh muntahan lava, lontaran batuan skoria, gas, serta sebaran abu vulkanik pekat ke udara.

Selain itu, runtuhnya tubuh gunung pada akhir 2018 membuat air laut kembali masuk mendekati pusat magma. Kondisi tersebut memicu rangkaian letusan freatomagnetik yang melepaskan dentuman keras dan gas sulfur dioksida.

Beda Karakteristik Magma

Ihwal perbandingan dengan peristiwa masa lampau, karakteristik magma andesitik saat ini masih berbeda jauh. Letusan 1883 didorong oleh magma dasit-riolit yang lebih kental dengan akumulasi gas bertekanan sangat tinggi.

Analisis laboratorium terhadap produk erupsi diwajibkan terus berjalan secara berkelanjutan demi keselamatan masyarakat luas. “Pemantauan setiap butir abu vulkanik merupakan kunci penting untuk para ahli dalam mendeteksi perubahan apa pun di perut bumi,” sebut kajian tersebut.***

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan