Perubahan fisik air menjadi tanda awal yang perlu diperiksa. Keamanan air baru dapat ditentukan melalui pengujian parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi.
Sejumlah warga Kota Surabaya melaporkan air Perusahaan Daerah Air Minum berbusa, keruh, dan berbau sejak Sabtu malam, 5 September 2026. Keluhan antara lain muncul di kawasan Kedurus dan berlanjut hingga Senin, 7 September 2026.
Dosen Biologi Universitas Muhammadiyah Surabaya Nur Hidayatullah Romadhon mengatakan perubahan warna, bau, rasa, kekeruhan, dan munculnya busa dapat menandakan perubahan karakteristik air. Namun, kondisi itu belum membuktikan adanya zat berbahaya.
“Dalam kajian kualitas air, perubahan warna, bau, rasa, kekeruhan, dan munculnya busa dapat menjadi tanda awal adanya perubahan karakteristik air, tetapi belum dapat langsung diartikan sebagai bukti keberadaan zat berbahaya,” kata Nur, Kamis, 10 September 2026.
Menurut dia, busa dapat terbentuk akibat senyawa surfaktan, bahan organik, ataupun udara yang terperangkap karena tekanan dan turbulensi aliran. Adapun bau bisa dipengaruhi senyawa organik dan anorganik, aktivitas mikroorganisme, serta kondisi sumber air.
Keamanan Harus Dipastikan lewat Uji Laboratorium
Nur mengatakan pengamatan dengan mata dan indera penciuman tidak cukup untuk menentukan keamanan air. Pemeriksaan harus mencakup parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi.
Salah satu parameter yang perlu diperiksa ialah bakteri Escherichia coli. Keberadaan bakteri indikator tersebut dapat menunjukkan kontaminasi fekal pada air.
“Jenis dan konsentrasi kontaminan tetap perlu diketahui melalui pemeriksaan yang memadai untuk menentukan tingkat risikonya,” ujarnya.
Kontaminasi mikroorganisme patogen dapat meningkatkan risiko diare, mual, muntah, dan sakit perut. Zat yang bersifat iritan juga dapat memicu keluhan pada kulit atau mata.
Namun, Nur menegaskan munculnya busa atau bau tidak serta-merta berarti air pasti menimbulkan gangguan kesehatan. Dampaknya bergantung pada jenis, konsentrasi, dosis, frekuensi, dan lama paparan terhadap kontaminan.
Kualitas Bisa Berubah dalam Jaringan
Sebelum sampai ke rumah pelanggan, air baku umumnya melewati proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi. Air kemudian disimpan dan dialirkan melalui jaringan perpipaan.
Perubahan kualitas, kata Nur, dapat terjadi sejak sumber air baku, proses pengolahan, hingga jaringan distribusi. Penyebabnya perlu ditelusuri dari hulu sampai keran konsumen berdasarkan hasil pemeriksaan ilmiah.
PAM Surya Sembada menyatakan keluhan air keruh dan berbusa berkaitan dengan indikasi polutan busa pada air baku Sungai Surabaya. Pengelola melakukan pengurasan jaringan dengan membuka saluran pembuangan di sejumlah wilayah Surabaya Timur dan Barat.
Nur meminta pengujian dilakukan secara rutin pada sumber air baku, instalasi pengolahan, jaringan distribusi, dan titik konsumen. Hasil pemantauan juga perlu disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.
“Busa dan bau memang bukan diagnosis bahwa air telah tercemar atau berbahaya, tetapi keduanya merupakan sinyal yang layak diperiksa secara ilmiah,” katanya.
Menurut Nur, keterbukaan hasil pengujian penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Kekhawatiran terhadap air perpipaan dapat mendorong warga membeli air kemasan, menambah pengeluaran rumah tangga, sekaligus meningkatkan sampah plastik.
“Ketika air digunakan setiap hari oleh masyarakat, jaminan kualitasnya semestinya hadir setiap hari pula, bukan hanya ketika keluhan sudah bermunculan,” ujar Nur.***





