Benarkah Ronggowarsito Meramal Letusan Krakatau 1883?

Kolase Litografi letusan Gunung Krakatau tahun 1883 (Foto: Wikimedia Commons) dan Kitab Pustaka Raja Purwa karya Raden Ngabehi Ronggowarsito. (Istimewa) 

Kitab Raja Purwa karya Ronggowarsito menyimpan misteri. Jauh sebelum 1883, ia mencatat letusan Gunung Kapi yang membelah bumi dan menenggelamkan daratan. Apakah naskah ini sebuah ramalan, atau rekam jejak bencana purba Krakatau?

Guntur menggelegar merobek langit, dan hujan badai yang turun seolah tak sanggup menyirami kobaran api raksasa yang membelah bumi.

Di rak-rak sunyi perpustakaan, lembaran tua Kitab Raja Purwa karya pujangga besar Surakarta, Ronggowarsito, menyimpan narasi apokaliptik yang mendahului zamannya.

Ditulis empat belas tahun sebelum dunia diguncang kiamat kecil letusan Krakatau 1883, naskah ini membuahkan satu tanya besar yang mengusik sains modern: apakah sang pujangga meramal masa depan, atau ia tengah mewariskan ingatan tentang kengerian di masa silam?

Bacaan Lainnya

Teka-teki Gunung Kapi di Balik Aksara Jawa

Naskah peninggalan tahun 1869 yang salinannya tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional, Jakarta itu menampilkan lanskap kehancuran yang amat presisi.

Dalam goresan aksaranya, Ronggowarsito mengisahkan hancurnya “Gunung Kapi”, sebuah nama yang asing bagi masyarakat abad ke-19. Sang pujangga mendeskripsikan secara mengerikan bagaimana gunung tersebut “meledak berkeping-keping dan tenggelam ke bagian terdalam dari bumi.”

Pada mulanya, rujukan ini membingungkan banyak kalangan dan dianggap tak lebih dari sekadar metafora atau mitologi babad tanah Jawa.

Namun, deskripsi kelanjutannya membuat siapa pun yang mengingat tragedi 1883 bergidik ngeri.

Naskah tersebut mencatat datangnya gelombang pembunuh dengan keakuratan geografis yang mencengangkan. Air laut naik dan membanjiri daratan, negeri di timur Gunung Batuwara sampai Gunung Raja Basa dibanjiri oleh air laut.

Penduduk di utara Sunda tenggelam, tersapu habis tanpa sisa. Laporan ini seakan menjadi deja vu historis dari amuk tsunami letusan Krakatau di Selat Sunda.

Pertemuan Sains Modern dan Naskah Keraton

Teka-teki dari keraton Surakarta ini pada akhirnya mengusik nalar Gegar Prasetya, seorang ahli kelautan dan tsunami.

Mantan peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tersebut menemukan kepingan sejarah ini justru saat ia merantau jauh ke Universitas Leiden, Belanda, demi menyelesaikan program doktoralnya.

Ada ironi yang getir saat ia menyadari kekayaan literatur leluhurnya justru dirawat di negeri kolonial.

“Saya membaca buku Ronggowarsito yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Padahal, aslinya beraksara dan berbahasa Jawa. Sebagai keturunan Jawa, hal ini sebenarnya memalukan,” kenangnya.

Keterasingan ini justru memantik keingintahuannya. “Apakah tulisan Ronggowarsito ini semacam ramalan atas peristiwa akan datang, atau dia menggambarkan peristiwa letusan Krakatau di masa silam?” gugat Gegar.

Rekam Jejak Kiamat Purba 416 Masehi

Keyakinan Gegar bahwa Krakatau menyimpan sejarah letusan berulang perlahan menemukan pijakannya. Literasi lokal rupanya memiliki cara tersendiri dalam menyandikan bencana.

Pada buku edisi kedua yang diterbitkan pada 1885, dua tahun pasca-letusan Krakatau modern, catatan Ronggowarsito mengonfirmasi segalanya. Sang pujangga memberikan petunjuk fatal tentang letak dan waktu kejadian.

Ia menyebutkan penanda waktu “Tahun Saka 338” (416 Masehi) dengan sebuah penegasan letak geografis: sebuah bunyi menggelegar dari Gunung Batuwara yang dijawab oleh suara dari Gunung Kapi di sebelah barat Banten modern.

Titik koordinat itu jelas merujuk pada Krakatau. Tanpa disadari, pujangga keraton itu telah menjelma menjadi perawat ingatan. Ia mencatat kiamat purba 416 Masehi dari sisa-sisa memori kolektif leluhur Nusantara, menyimpannya dalam lipatan kertas agar tak dilupakan oleh zaman.

Catatan Ronggowarsito menampar kesadaran kita yang acapkali amnesia terhadap sejarah bencana alam di tanah sendiri. Di balik bentang alam Nusantara yang memukau, selalu ada ancaman yang tertidur di Cincin Api Pasifik.

Kitab Raja Purwa membuktikan bahwa literatur kuno dan manuskrip leluhur bukan sekadar dongeng pengantar tidur atau peninggalan usang, melainkan “kotak hitam” peradaban yang menyimpan alarm kewaspadaan.

Masa lalu tak pernah benar-benar berlalu; ia adalah cermin bagi kita untuk membaca masa depan, sebelum gemuruh dari dasar laut kembali mengetuk pintu pesisir Nusantara.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan