Enam klaster dugaan keracunan MBG muncul dalam sepekan. Pemeriksaan laboratorium masih berjalan, sementara dapur yang terlibat berada di provinsi dan rantai produksi berbeda.
Sedikitnya 1.964 siswa, guru, dan penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan dalam enam klaster Makan Bergizi Gratis selama sepekan hingga Kamis, 3 September 2026.
Jumlah itu mencakup kasus di Lasem, Sidoarjo, Nganjuk, Agam, Tana Toraja, dan Jombang. Setiap kejadian berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG berbeda sehingga belum dapat disimpulkan mempunyai sumber kontaminasi yang sama.
Klaster terbesar muncul di SMA Negeri 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebanyak 752 siswa dan 25 guru mengalami diare dan muntah setelah menyantap MBG pada Rabu.
Kepala SMAN 1 Lasem Juhartutik mengatakan sebagian ayam yang hendak dibagikan ditemukan berlendir dan telah dipisahkan. Makanan disebut dimasak sekitar pukul 03.00 WIB dan dikonsumsi pada siang hari.
“Yang berlendir sudah disisihkan,” kata Juhartutik, Kamis, 3 September 2026.
Sebagian besar korban dipulangkan. Dokter setempat Joko Paryanto mengatakan 15 siswa dan guru harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Klaster Baru di Toraja dan Jombang
Pada hari yang sama, 152 siswa SMP Negeri 1 Makale dan SMP Negeri 2 Makale di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dirawat di tiga rumah sakit.
Mereka mengalami mual, muntah, sakit kepala, dan nyeri perut setelah mengonsumsi MBG dari SPPG Batupapan sehari sebelumnya.
Polres Tana Toraja telah mengambil sampel makanan dan minuman dari dapur tersebut untuk diperiksa Badan Pengawas Obat dan Makanan.
“Yang ahlinya itu BPOM. Nanti dari BPOM yang memberikan hasil uji laboratoriumnya,” kata Kepala Polres Tana Toraja Ajun Komisaris Besar Budy Hermawan.
Klaster lain muncul di SMP Negeri 1 Kabuh, Jombang. Sedikitnya 85 siswa dan guru mengalami sakit perut, pusing, mual, muntah, atau diare setelah menyantap MBG pada Rabu siang.
Dokter Puskesmas Kabuh Aditya Bimantara mengatakan sejumlah korban mencurigai udang saus padang dalam paket makanan. Namun, keterangan mengenai rasa dan aroma makanan belum cukup untuk menentukan penyebab keracunan.
“Saya rasa ini masih kemungkinan. Kami masih perlu investigasi lagi,” kata Aditya.
Enam Dapur, Gejala Serupa
Tiga kasus besar sebelumnya terjadi di Sidoarjo, Nganjuk, dan Agam. Data terbaru yang dikutip Reuters dari pejabat setempat mencatat 664 korban di Sidoarjo, naik dari pendataan awal sebanyak 566 orang.
Sebanyak 49 siswa dan guru juga mengalami gangguan kesehatan di Nganjuk. Sementara di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, jumlah korban mencapai 237 orang.
Dengan tambahan 777 korban di Lasem, 152 di Tana Toraja, dan sedikitnya 85 di Jombang, keseluruhan korban dalam enam klaster itu mencapai sedikitnya 1.964 orang.
Kesamaan gejala tidak membuktikan keenam kasus berasal dari bakteri, menu, atau pemasok yang sama. Pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan untuk menelusuri bahan baku, proses memasak, suhu penyimpanan, kebersihan peralatan, pengemasan, distribusi, dan jeda waktu sebelum makanan dikonsumsi.
Badan Gizi Nasional telah menghentikan sementara SPPG Kalitengah yang memasok makanan dalam kasus Sidoarjo. Namun, hingga Kamis petang, lembaga tersebut belum mengumumkan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh dapur yang terlibat dalam klaster terbaru.
Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Charles Honoris mengatakan kejadian yang muncul berulang di sejumlah wilayah tidak dapat lagi diperlakukan sebagai insiden yang berdiri sendiri.
“Ini adalah kegagalan sistem,” kata Charles.***





