Unair Pelajari Rahasia Program Makan Sekolah Jepang

Perkuat Kebijakan Gizi Nasional
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair bersama tim dari Kyoto University melakukan kunjungan akademik ke Toyotsu Daiichi Elementary School (Suita School), Prefektur Osaka, Jepang. - Humas Unair

Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga mempelajari langsung sistem makan siang sekolah Jepang yang dikenal sukses menjaga gizi anak sekaligus membentuk karakter. Hasil kajian ini akan menjadi bahan rekomendasi kebijakan berbasis bukti bagi pemerintah Indonesia.

Upaya mencari model terbaik untuk memperkuat program makan bergizi di Indonesia membawa akademisi Universitas Airlangga (Unair) ke Jepang.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair bersama peneliti Kyoto University melakukan kunjungan akademik ke Toyotsu Daiichi Elementary School atau Suita School di Prefektur Osaka untuk mempelajari School Lunch Program (Kyushoku), program makan siang sekolah yang telah lama menjadi rujukan dunia.

Bacaan Lainnya

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi riset internasional guna mengidentifikasi praktik terbaik dalam penyelenggaraan program makan sekolah, mulai dari tata kelola, pembiayaan, hingga pendidikan yang menyertainya.

Dosen FKM Unair Prof. Thinni Nurul Rochmah mengatakan Jepang tidak hanya menempatkan program makan sekolah sebagai upaya pemenuhan gizi, tetapi juga membangun sistem yang berkelanjutan melalui dukungan regulasi dan pendanaan yang jelas.

“Melalui kunjungan ini, kami ingin memahami secara langsung tentang sistem makan siang sekolah di Jepang. Mulai dari aspek manajemen, pembiayaan, hingga edukasi yang menyertainya. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting untuk mendukung pengembangan kebijakan yang sesuai dengan konteks Indonesia,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Belajar Sistem yang Berjalan Puluhan Tahun

Selama kunjungan, tim FKM Unair mengamati proses pengelolaan dapur sekolah yang menerapkan standar higienitas tinggi. Makanan diolah menggunakan fasilitas modern dengan pengawasan tenaga profesional bidang gizi untuk memastikan kualitas dan kecukupan nutrisi siswa.

Perhatian khusus juga diberikan pada skema pembiayaan program. Dalam sistem Kyushoku, pemerintah pusat dan pemerintah daerah menanggung penyediaan infrastruktur, fasilitas dapur, serta tenaga pendukung. Orang tua hanya berkontribusi pada biaya bahan baku makanan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan