Nilai tukar Rupiah dibuka melemah hingga mendekati level Rp17.700 per USD yang diprediksi segera memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di pedesaan.
Nilai tukar Rupiah terhadap USD merosot tajam pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, 19 Mei 2026. Meski transaksi domestik menggunakan mata uang lokal, dampak pelemahan ini dinilai tetap menjalar kuat hingga ke masyarakat akar rumput.
Kondisi pasar keuangan yang bergejolak ini diproyeksikan bakal menekan sektor riil di daerah. Ketergantungan industri nasional pada bahan baku impor menjadi pemicu utama rantai kenaikan harga barang di tingkat pasar tradisional.
“Nilai tukar rupiah yang menurun tetap memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok karena banyak sektor ekonomi Indonesia masih bergantung pada barang impor dan harga global,” kata Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya Fatkur Huda, Selasa, 19 Mei 2026.
Tekan Kelompok Pekerja Rentan
Menurut Fatkur, efek domino dari penurunan nilai kurs ini paling nyata dirasakan oleh kelompok masyarakat bawah. Sektor rentan seperti petani, nelayan, pelaku usaha mikro, dan pekerja informal menjadi pihak yang paling awal terpukul.
Kenaikan harga komponen produksi seperti pupuk, pakan ternak, bahan bakar minyak, hingga obat-obatan tidak dapat dihindari. Kondisi tersebut otomatis mengerek biaya operasional distribusi logistik dari kota ke desa.
“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan daya beli masyarakat dan memperbesar tekanan ekonomi masyarakat kecil,” ujar Fatkur. Tekanan inflasi berpotensi besar memicu lonjakan harga yang tidak sebanding dengan pendapatan warga desa.
Stabilitas Kurs Mutlak Dijaga
Fatkur menegaskan bahwa gejolak mata uang asing ini tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai urusan pelaku pasar modal saja. Pemerintah diminta menjaga stabilitas nilai tukar demi melindungi kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Langkah intervensi moneter yang taktis sangat dibutuhkan agar inflasi barang pokok tidak semakin liar. Penguatan nilai kurs rupiah menjadi kunci utama untuk mengamankan daya beli para pelaku ekonomi cilik di seluruh pelosok daerah.***




