Dosen PGSD UMSURA, Elmi Tri Yuliandari, mengingatkan orang tua tidak memaksa anak sahur saat mengalami GTMM (Gerakan Tutup Mulut dan Mata). Ciptakan suasana hangat dan tidur cukup sebagai solusinya.
Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Elmi Tri Yuliandari, mengingatkan orang tua agar tidak terlalu memaksakan anak makan sahur ketika si kecil sudah menunjukkan GTMM atau Gerakan Tutup Mulut dan Mata saat waktu sahur.
Menurut Elmi, membangunkan anak untuk makan sahur memang membutuhkan kesabaran ekstra, terutama ketika anak mulai malas bangun dan enggan makan.
“Orang tua jangan sampai terlalu memaksakan anak untuk makan sahur jika anak sudah benar-benar GTMM atau Gerakan Tutup Mulut dan Mata ketika sahur,” ujar Elmi, dikutip Minggu (22/2/2026).
Pastikan Anak Istirahat Cukup
Elmi menyarankan orang tua memastikan anak tidur dan beristirahat dengan cukup. Istirahat yang optimal akan membantu anak beraktivitas maksimal selama berpuasa.
Ia menegaskan, anak sebaiknya tidak tidur terlalu larut malam karena akan kesulitan bangun saat sahur.
“Jangan sampai si kecil tidur terlalu larut malam, hal ini akan membuat anak susah untuk bangun ketika waktunya makan sahur. Jangan lupa juga untuk membangunkan anak paling tidak 30 menit sebelum waktu imsak agar anak-anak bisa melaksanakan jama’ah sholat shubuh dengan orang tua,” terangnya.
Selain itu, orang tua perlu memberikan pemahaman sederhana tentang pentingnya sahur. Penjelasan yang mudah dipahami akan membantu anak mengerti manfaat sahur sebagai sumber energi selama menjalankan ibadah puasa.
Ciptakan Suasana Sahur Menyenangkan
Elmi juga mendorong orang tua menyiapkan menu sahur yang disukai anak, tanpa mengabaikan kandungan gizi.
Orang tua bisa berdiskusi dengan anak sebelum tidur mengenai menu yang diinginkan. Cara ini dinilai mampu meningkatkan semangat anak saat dibangunkan.
“Hal ini akan membuat nafsu makan anak bertambah dan lebih semangat ketika dibangunkan waktu makan sahur,” imbuhnya.
Ia menambahkan, makan sahur bersama keluarga dapat menciptakan suasana yang lebih hangat. Anak akan merasa tidak sendirian karena seluruh anggota keluarga menjalankan sahur dan puasa bersama.
“Ajaklah anak untuk mengobrol dan menceritakan hal-hal yang dilakukan hari sebelumnya ataupun yang akan dilakukan ketika pagi dan siang hari nanti. Hal ini akan membuat suasana makan sahur menjadi lebih seru dan tidak akan membuat anak mengantuk,” jelasnya.
Di akhir, Elmi mengingatkan pentingnya motivasi dan dukungan dari orang tua. Pujian dengan kalimat positif dapat membuat anak merasa dihargai dan didukung.
“Tentu hal ini akan membuat anak merasa dihargai dan mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya,” simpulnya.
Ia juga menekankan agar orang tua memberi teladan dengan rajin berpuasa dan beribadah selama Ramadan. ***





