Di tengah grafik yang menurun dan laporan yang tampak optimistis, Hari Shiddiqiyyah, yang diperingati setiap 27 Rojab dalam kalender Hijriyah—kembali mengetuk nurani: sejauh mana angka-angka itu benar-benar jujur pada kehidupan manusia?
Setiap 27 Rojab—tahun ini jatuh pada 16 Januari 2026–Hari Shiddiqiyyah mengajak umat Islam kembali ke akar paling mendasar dari etika sosial: shiddiq—kejujuran yang utuh, tidak terbelah antara kata dan kenyataan.
Di era modern, ujian kejujuran tidak lagi berhenti pada lisan, melainkan menjalar ke cara sebuah bangsa membaca, menyajikan, dan bertindak atas data yang membentuk kebijakan publik serta rasa keadilan sosial.
Angka yang Turun, Beban yang Tetap Terasa
Secara resmi, Indonesia mencatat kabar baik. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan persentase penduduk miskin per Maret 2025 berada di angka 8,47 persen—sekitar 23,85 juta jiwa—terendah dalam hampir dua dekade. Tren ini konsisten menurun, menandakan pemulihan ekonomi pascapandemi berjalan.
Namun, seperti bayangan yang tak selalu sejalan dengan cahaya, data yang sama menyimpan lapisan cerita lain. Tingkat kemiskinan di wilayah perkotaan justru sedikit meningkat, sementara perdesaan mengalami penurunan.
Garis kemiskinan nasional ditetapkan sekitar Rp609.160 per kapita per bulan—sebuah angka yang, secara metodologis, merepresentasikan kebutuhan dasar minimum.
Di atas kertas, batas itu jelas. Di kehidupan sehari-hari, ia terasa rapuh.
Biaya Hidup dan Ketidaknyamanan yang Tak Tertangkap Grafik
Inflasi nasional memang masih berada dalam sasaran Bank Indonesia, di kisaran 1,5–3,5 persen. Tetapi, bagi keluarga urban, kenyataan tidak selalu bergerak seirama dengan angka rata-rata. Harga pangan, transportasi, dan sewa tempat tinggal kerap naik lebih cepat dibandingkan pendapatan, terutama bagi pekerja sektor informal yang hidup tanpa jaring pengaman memadai.
Seorang pedagang kecil di kota mungkin masih tercatat “di atas garis kemiskinan”. Namun ketika harga bahan pokok melonjak dua digit dalam hitungan bulan, status statistik itu tidak serta-merta menghapus kecemasan di meja makan. Di titik inilah, angka yang akurat secara teknis mulai terasa asing secara emosional.





