Inilah Lembaga-Lembaga Bentukan Belanda untuk Merusak Sejarah Indonesia

Kolonial Belanda membentuk berbagai 'lembaga riset' untuk mendegradasi sejarah Islam dan Nusantara. | ILUSTRASI Samudrafakta
Belanda membentuk jaringan lembaga riset, sensor, dan penerbitan untuk memelintir sejarah Islam dan menjauhkan bangsa Indonesia dari jati dirinya.

__________

Penjajahan Belanda tak hanya berlangsung di ladang dan tambang, tapi juga di dalam buku pelajaran dan manuskrip sejarah. Salah satu strategi terselubung kolonialisme adalah membentuk lembaga-lembaga khusus untuk mengatur narasi, mengaburkan peran ulama, dan menghapus jejak Islam dari sejarah bangsa.

Berikut adalah lembaga-lembaga bentukan Belanda yang memainkan peran utama dalam rekayasa sejarah Indonesia, dirangkum dari berbagai sumber dan dikonfirmasi oleh sejarawan Agus Sunyoto:

Bacaan Lainnya
1. Instituut voor de Javaansche Taal (Institut Bahasa Jawa)

Didirikan tahun 1832 di Surakarta atas prakarsa misionaris J.F.C. Gericke, lembaga ini menjadi pusat penelitian bahasa dan sastra Jawa. 

Namun, lebih dari itu, IBJ menyunting dan menulis ulang naskah-naskah ulama dan pujangga lokal agar sesuai dengan agenda kolonial. 

Kamus, tata bahasa, dan terjemahan Bibel diterbitkan dengan pesan terselubung: menegasikan pengaruh Islam dalam budaya Jawa.

2. Kantor Penasihat untuk Urusan Bahasa Timur dan Hukum Islam

Lembaga ini berfungsi sebagai “sensor pusat” kolonial. Naskah yang dianggap membahayakan kekuasaan disita, ulama yang dianggap radikal diawasi atau dibungkam. 

Tokoh-tokoh besar orientalis seperti Snouck Hurgronje, T.G. Pigeaud, G.W.J. Drewes, D.A. Rinkes, hingga L.W.C. van den Berg menjadi aktor utama di balik operasi ini. Ironisnya, karya mereka masih banyak dipakai sebagai rujukan akademik di kampus Islam Indonesia.

3. Balai Poestaka

Lembaga penerbitan ini didirikan tahun 1917 oleh pemerintah Hindia Belanda untuk “mendidik” pribumi melalui buku bacaan. 

Balai Poestaka mencetak ulang banyak naskah lama yang sudah disesuaikan dengan perspektif kolonial. Melalui literatur populer, lembaga ini menyebarkan narasi yang menjauhkan masyarakat dari sejarah asli, terutama sejarah Islam dan pesantren.

4. Komisi Pengumpulan dan Penyuntingan Naskah Lama

Meski tak seformal nama-namanya, Belanda membentuk tim pujangga istana untuk mengumpulkan dan menafsirkan naskah-naskah kuno. 

Pos terkait