Teknologi nuklir bukan lagi sekadar pelengkap. Kini, ia jadi andalan baru untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatannya demi memastikan pangan cukup dan berkualitas.
__________
Teknologi ini punya banyak fungsi. Bisa memperpanjang masa simpan, menjaga gizi, dan melindungi dari mikroba serta hama.
“Teknologi, termasuk nuklir, kini jadi tulang punggung. Kita tak bisa lagi mengandalkan cara lama,” kata Syaiful Bakhri, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Sabtu, 28 Juni 2025.
Salah satu masalah besar dalam rantai pangan adalah food loss — hilangnya pasokan sebelum sampai ke tangan konsumen. Teknologi nuklir dinilai efektif mengatasinya.
Indonesia sudah punya fasilitas mumpuni untuk ini. Semua riset dan pengembangannya terpusat di Kawasan Sains dan Teknologi G.A. Siwabessy, Jakarta. Di sana ada 506 peneliti yang bekerja di tujuh pusat riset berbeda, dari teknologi akselerator sampai radioisotop.
Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah iradiasi. Menurut Irawan Sugoro, Kepala Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi BRIN, teknologi ini bisa menjaga kualitas pangan tanpa mengubah rasa, tekstur, atau nutrisinya.
Iradiasi juga dipakai untuk pengujian non-destruktif dan sterilisasi alat kesehatan, terutama di sektor pertambangan dan medis. Tapi tantangannya masih sama: stigma terhadap kata “radiasi.”
“Padahal teknologinya aman dan sudah dipakai luas di banyak negara maju,” ujar Irawan.
Peneliti lain, Murni Indarwatmi, menyebut iradiasi sangat berguna untuk ekspor. Negara seperti Australia punya standar ketat. Iradiasi bisa jadi solusi.
Teknologi ini bisa menggantikan metode manual untuk membasmi hama tersembunyi, seperti lalat buah atau kutu putih. Buah-buahan ekspor seperti mangga dan manggis sangat terbantu.
Tak cuma itu. Iradiasi juga efektif untuk mensterilkan produk herbal, daging olahan, hingga bubuk cabai dalam mi instan. Karena tidak menyentuh langsung dan punya daya tembus tinggi, iradiasi bisa dilakukan bahkan setelah produk dikemas.





