Lalu lintas laut di Indonesia makin padat. Setiap hari, ribuan kapal lalu-lalang di perairan Tanah Air, mulai dari kapal penumpang, kapal barang, hingga kapal ikan. Padatnya aktivitas ini bikin risiko tabrakan kapal makin tinggi. Untuk mencegah hal itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turun tangan.
_______________________
Lewat Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika, BRIN mengembangkan teknologi baru bernama crashworthiness. Teknologi ini bisa memprediksi seberapa kuat struktur kapal menahan benturan jika terjadi tabrakan di laut.
“Crashworthiness ini pendekatan ilmiah. Jadi kita bisa tahu bagaimana struktur kapal menyerap energi saat tabrakan dan bagian mana yang paling rentan rusak,” jelas Abid Paripurna Fuadi, peneliti muda BRIN, seperti dilansir laman BRIN, Rabu, 14 Mei 2025.
Abid tergabung dalam Kelompok Riset Teknologi Mitigasi dan Kendali Risiko Aktivitas di Perairan. Riset yang ia kerjakan menggunakan dua pendekatan: simulasi digital dan uji fisik langsung.
Simulasi dilakukan dengan metode finite element, yaitu teknologi untuk menganalisis kekuatan struktur kapal secara virtual. Berbagai skenario bisa diuji lewat komputer tanpa perlu merusak kapal sungguhan.
Setelah itu, hasil simulasi diuji lewat drop test impact di Laboratorium Aero Struktur BRIN di Rumpin, Bogor. Dalam pengujian ini, panel kapal dijatuhkan beban dari ketinggian untuk melihat bagaimana strukturnya mengalami kerusakan.
Menariknya, BRIN juga menciptakan sistem pelepasan beban otomatis berbasis solenoid, yang kini sudah dipatenkan.
“Semua proses pengujian kami lakukan terukur. Mulai dari cek ketebalan pelat dengan ultrasonic test, pemetaan bentuk panel dengan alat CMM, hingga pemasangan sensor tegangan di titik-titik kritis,” terang Abid.
Proses ini turut disaksikan oleh pihak Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) agar bisa diadopsi dalam penyusunan regulasi keselamatan kapal nasional.
Dampaknya, hasil riset ini bisa langsung dimanfaatkan oleh banyak pihak. Mulai dari desainer kapal yang butuh data kekuatan struktur, awak kapal yang ingin tahu area paling rawan, hingga regulator seperti BKI yang butuh referensi teknis untuk membuat aturan keselamatan lebih presisi.
“Jadi keselamatan kapal bukan cuma urusan pelatihan kru. Tapi juga soal desain yang tangguh sejak awal,” tegas Abid.
Crashworthiness membuka cara pandang baru: keselamatan kapal harus berbasis data, bukan sekadar SOP. BRIN berharap teknologi ini bisa jadi pondasi keselamatan pelayaran Indonesia yang lebih kuat, modern, dan adaptif terhadap tantangan zaman.***
