Anregurutta Haji (AGH.) Habib Abdurrahim Assegaf, yang biasa dikenal dengan Puang Makka, memutuskan mundur dari Majelis Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2022-2027.
Pengumuman pengunduran diri disampaikannya dari Rahim Assegaf (Ras) Center, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Selasa, 10 Desember 2024 siang. Keputusan tersebut diambil lantaran ulama asal Sulawesi Selatan itu merasa tidak dianggap oleh PBNU.
“Saya berpikir bahwa keberadaan saya selaku Mustasyar PBNU tidak terlalu penting bagi pengurus PBNU,” kata Puang Makka di Makassar, Selasa.
Dia juga menyatakan meminta maaf karena selama mendapat amanah sebagai Mustasyar tidak pernah menghadiri pertemuan yang dilaksanakan di tingkat pengurus besar karena kondisi kesehatannya.
Di luar masalah kesehatan, Puang Makka juga menyatakan heran, lantaran setiap kali dia ke Jakarta untuk bertemu Ketum maupun Rais Aam PBNU, selalu saja bertepatan dengan kegiatan kedua pucuk pimpinan PBNU itu di luar kota.
“Pada saat itu pula beliau sudah berada di luar kota mengadakan pertemuan dengan pengurus-pengurus daerah serta kegiatan kejamiyahan lainnya,” ucapnya.
Kejadian-kejadian itulah yang kemudian membuat Puang Makka tidak pernah bertemu dengan Ketua Umum maupun Rais Aam PBNU sejak ia dilantik menjadi Mustasyar dalam mukta PBNU 2021 silam.
Di sisi lain, menurut Puang Makka, Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf dan pengurus lainnya juga tidak pernah menemuinya saat berkunjung ke Makassar. “Sudah tiga kali berkunjung ke Makassar, namun saya tidak pernah bertemu, demikian pula pengurus PBNU lainnya,” akunya.
Puang Makka mengaku selalu tidak tahu ketika ada kunjungan pihak PBNU ke Makassar, lantaran tidak ada pengurus yang memberitahukan kepada dirinya.
Meski menyatakan diri mundur dari Majelis Mustasyar PBNU, Puang Makka terus akan mengembangkan NU di Sulsel sebagaimana pesan dari ayahnya, yang merupakan salah satu ulama pendiri NU di Tanah Bugis, yakni AGH Syekh Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma.
Ia mengaku akan fokus membina jemaah Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassari, dan fokus pada pembinaan pesantren yang dia asuh. “Selain itu saya juga ingin fokus melayani umat secara personal,” imbuhnya.
Puang Makka, Ulama Tarekat Khalwatiyah, Santri Habib Luthfi bin Yahya
Puang Makka lahir di Makassar, 14 September 1960. Sejak kecil dia dikirim ayahnya nyantri di Pesantren Tebuireng, Jombang, selama 6 tahun–sepanjang 1975-1982).
Puang Makka juga berguru kepada Habib Lutfi bin Yahya di Pekalongan selama 20 tahun, untuk mendalami tasawuf. Dia merupakan Mursyid Jam’iatul Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassary. Amanah itu diwarisi ayahnya, AGH As-Syekh Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma.
Puang Makka dikenal sebagai ulama yang tegas, istiqamah, mursyid tarekat, serta memiliki jaringan yang luas. Kharismanya, sebagai ulama yang memiliki banyak jemaah, membuatnya kerapkali dikunjungi banyak kalangan.
Sehari-hari Puang Makka membina pengajian tarekat. Nasihat-nasihatnya senantiasa menyejukkan dengan tema-tema sufistik.***





