Hari Ayah Nasional 12 November Perlu Diperingati, Ada ‘Jasa Ibu-ibu’ di Baliknya

Ilustrasi melindungi anak-anak dari jerat pedofilia. Foto:Dok
Hari ini, Selasa 12 November 2024, Indonesia memperingati Hari Ayah Nasional. Hari ini barangkali tidak akan terealisasi tanpa adanya jasa dari kaum ibu. Kok bisa?

Hari Ayah telah menandai perayaan ke-18 dan mulai diperingati pada tahun 2006 hingga tahun 2024. Walau tak seterkenal Hari Ibu, namun Hari Ayah tetap semarak diperingati, dalam bentuk ucapan dan meme di media sosial.

Hari Ayah Nasional ternyata memiliki latar belakang unik dan sarat makna. Tanpa saja ibu-ibu, sangat kecil peluang diperingati Hari Ayah.

Hari Ayah di Indonesia diprakarsai oleh paguyuban lintas agama dan budaya bernama Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP) di Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada 12 November 2006. Organisasi ini mendeklarasikan Hari Ayah Nasional pertama kali.

Dua tahun sebelumnya, PPIP sebagai sebuah organisasi yang memiliki perhatian khusus pada peran orang tua menggelar acara peringatan Hari Ibu di Surakarta dengan mengadakan lomba menulis surat untuk ibu pada 22 Desember 2004.

Di akhir acara, mayoritas peserta bertanya terkait penyelenggaraan lomba serupa untuk sosok ayah. Namun, saat itu belum ada agenda nasional untuk memperingati Hari Ayah.

PPIP pun melakukan penelusuran dan bahkan audiensi ke DPRD Kota Surakarta, namun tidak menemukan jawaban memuaskan. Akhirnya, PPIP mengusulkan kepada DPRD untuk menetapkan Hari Ayah Nasional jika memang belum diresmikan secara nasional.

Meski tidak mendapat respons positif, PPIP tetap berusaha keras. Setelah melalui proses kajian panjang, dua tahun setelahnya, PPIP mendeklarasikan Hari Ayah Nasional, pada 12 November 2006.

Deklarasi ini dilaksanakan di Pendopo Gede Balai Kota Solo dan dihadiri oleh ratusan orang dari berbagai latar belakang. Deklarasi Hari Ayah mengusung semboyan, “Semoga Bapak Bijak, Ayah Sehat, Papah Jaya”.

Sebelum deklarasi, dibentuk panitia independen untuk menyelenggarakan sayembara menulis surat untuk ayah. Panitia kemudian mengumpulkan 100 surat pilihan dalam buku Kenangan untuk Ayah untuk memeriahkan deklarasi.

Isi surat sangat beragam, mulai dari pujian, rasa membutuhkan, hingga nada kritis mempertanyakan fungsi bapak sebagai kepala keluarga yang tidak berjalan baik—misalnya surat berjudul Ayah, jangan pernah bilang lagi, kalau ayah ingin bercerai dengan ibu.

Deklarasi Hari Ayah Nasional diikuti dengan prosesi sungkeman kepada bapak yang membuat banyak hadirin menitikkan air mata.

Piagam deklarasi Hari Ayah Nasional dan buku Kenangan untuk Ayah dikirim kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Piagam dan buku berisi surat itu turut dikirim ke Bupati di empat penjuru Indonesia, yakni di Sabang (Aceh), Merauke (Papua Selatan), Sangir Talaud (Sulawesi Selatan), dan Pulau Rote (NTT). Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah penetapan Hari Ayah Nasional.

Meski kurang familiar dan tidak menjadi hari libur, Hari Ayah Nasional perlu digaungkan guna mengingat peran ayah sebagai pemimpin, pelindung, pahlawan, dan teladan bagi anak-anaknya.

Figur ayah adalah sosok sentral dalam suatu keluarga. Bersama dengan Ibu, Ayah membesarkan, membimbing, mendedikasikan dirinya untuk anak-anak tercinta. Bahkan untuk anak perempuan, ada ungkapan kalau Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, dan menjadi sahabat pertama bagi anak laki-lakinya.***