Dalam artikel Menelusuri Jejak dan Warisan Walisongo yang terbit di jurnal Wawasan, Wawan Hernawan menuliskan bahwa Sunan Muria termasuk tokoh penting dalam Kesultanan Demak. Dia dijadikan sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530). Dia juga dikenal bisa memecahkan berbagai macam masalah, betapapun rumitnya masalah tersebut.
Sunan Muria juga terlibat dalam pemilihan Raden Patah sebagai pemimpin perdana kerajaan Islam pertama di pantai utara Jawa tersebut. Kendati berpengaruh di Kesultanan Demak, namun dia lebih suka tinggal di daerah terpencil dan jauh dari pusat perkotaan dalam menjalankan dakwahnya. Dia memutuskan tinggal dan menetap di Gunung Muria.
Gunung Muria merupakan salah satu gunung yang berada di pantai utara Jawa Tengah. Gunung ini masuk ke dalam tiga wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati. Konon, salah satu alasan kenapa Sunan Muria lebih memilih berdakwah di pedalaman karena merasa bahwa masyarakat di pelosok tidak memperoleh pengetahuan mengenai ajaran Islam. Ditambah lagi kondisi ekonomi masyarakat di daerah tersebut tergolong kurang mampu. Sunan Muria ingin berdakwah sekaligus memajukan kehidupan ekonomi di sana.
Walaupun pusat berdakwahnya di Gunung Muria, namun pengaruh Sunan Muria tergolong sangat luas. Jangakuan dakwahnya mencapai daerah Tayu, Jepara, Juwana, dan sekitar Kudus. Cara dakwah tapa ngeli—yang tak mudah terbawa arus dinamika sosial—menyebabkan Sunan Muria dikenal luas. Sasaran dakwah dari Sunan Muria adalah para nelayan, pedagang, pelaut, dan rakyat jelata lain. Dia suka dengan keterampilan bercocok tanam, berdagang, dan melaut.
Sang Sunan yang hidup pada dua masa kesultanan Islam di Jawa, yaitu Kesultanan Demak yang berakhir dengan wafatnya Sultan Trenggana pada tahun 1946 M, dan Kesultanan Pajang yang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya yang wafat pada tahun 1987 M.
Sunan Muria dikenal sebagai pendukung setia Kesultanan Demak. Ketika terjadi kekisruhan dalam suksesi kerajaan setelah Sultan Trenggana meninggal, Sunan Muria diketahui tetap setia mendukung para calon pengganti dari Demak, sehingga berseberangan dengan Sunan Kudus yang memihak Arya Penangsang. Boleh jadi karena kedudukannya yang penting sebagai pendukung Demak sekaligus putra Sunan Kalijaga—yang juga mertua Sultan Trenggana—pihak kesultanan memberikan pengawalan khusus kepada Sunan Muria. Hal itu terbukti dengan keberadaan tujuh belas makam prajurit dan punggawa Demak di sekitar makam Sunan Muria.
Makam Sunan Muria terletak di salah satu puncak bukit di lereng Gunung Muria, masuk Kecamatan Colo, kira-kira 18 kilomter di utara Kota Kudus. Seperti makam Wali Songo lainnya, makam Sunan Muria terletak di dalam tungkub yang ditutupi tirai berupa kain tipis warna putih.

Untuk mencapai makam Sunan Muria, dari kaki gunung harus melewati jalan melingkar sejauh tujuh kilometer. Pada bagian akhir perjalanan dari lereng yang terjal menanjak puncak, dibuat undak-undakan sejauh 750 meter. Sekarang ini, dari kaki gunung di Colo, para peziarah dapat menggunakan jasa ojek untuk melewati jalan sempit berliku-liku agar sampai ke lereng akhir menuju anak tangga yang terjal menanjak ke area makam di puncak gunung. Meski sudah ada ojek, namun masih banyak peziarah yang sengaja berjalan kaki untuk maksud terciptanya suasana ziarah yang lebih khusyuk.
Di sebelah timur, di samping tungkub makam Sunan Muria, terletak makam putri Sunan Muria yang bernama Raden Ayu Nasiki. Tepat di sebelah barat dinding belakang Masjid Muria, di sebelah selatan mihrab, terdapat makam Panembahan Pengulu Jogodipo, putra sulung Sunan Muria.[—bersambung]
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





