Shiddiq di Saat Krisis: Ketika Jujur Jadi Pilihan Terberat

Menjelang Hari Shiddiqiyyah, ilustrasi ini mengingatkan: krisis akan berlalu, tetapi jejak kejujuran—atau kebohongan—akan tinggal lebih lama dalam ingatan sosial.
Di tengah tekanan ekonomi, kejujuran kerap diuji sebagai pilihan hidup yang paling mahal.

Krisis ekonomi jarang datang dengan wajah dramatis. Ia bekerja perlahan, mempersempit ruang gerak, menekan dari banyak arah, lalu memaksa orang mengambil jalan pintas. Di fase inilah shiddiq—kejujuran yang utuh—tidak lagi sekadar nilai moral, melainkan pilihan hidup yang memiliki konsekuensi nyata.

Menjelang Hari Shiddiqiyyah, 27 Rojab 1447 H atau 16 Januari 2026, kondisi sosial-ekonomi Indonesia tengah berada dalam tekanan. Harga kebutuhan pokok meningkat, pekerjaan makin tidak pasti, dan bantuan sosial menjadi penyangga hidup bagi banyak keluarga. Dalam situasi seperti ini, kejujuran sering kali terasa tidak realistis.

Ketika Data Harus “Disesuaikan”

Di sebuah daerah, daftar penerima bantuan diperbarui. Secara administratif, jumlah warga miskin terlihat menurun. Namun di lapangan, antrean justru semakin panjang. Ada keluarga yang dicoret dari daftar karena dianggap “sudah mampu”, padahal penghasilannya hanya cukup untuk makan harian.

Saat dipertanyakan, jawabannya singkat: data harus rapi, target harus tercapai, laporan harus terlihat baik. Tidak ada yang merasa berbohong. Semua menganggap sedang menyesuaikan keadaan.

Bacaan Lainnya

Di titik ini, krisis memperlihatkan wajahnya. Shiddiq tidak runtuh karena niat jahat, melainkan oleh kebohongan kecil yang dianggap perlu.

Pilihan Sunyi di Level Individu

Seorang pekerja kontrak diminta menandatangani laporan yang tidak sepenuhnya sesuai kondisi lapangan. Ia menyadari ada yang tidak beres. Namun kontraknya akan segera habis. Di rumah, ada anak yang menunggu biaya sekolah.

Pilihan itu tidak hitam-putih.

Jujur berarti berisiko kehilangan penghasilan.

Diam berarti ikut menyumbang kebohongan.

Dalam situasi seperti ini, kejujuran tidak terasa heroik. Ia terasa sunyi dan berat. Namun justru di sinilah shiddiq diuji—bukan sebagai keberanian berteriak, melainkan keputusan kecil yang tidak semua orang sanggup ambil.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *