Menjelang 27 Rojab
Hari Shiddiqiyyah bukan sekadar penanda kalender spiritual. Ia adalah momen introspeksi kolektif—tentang bagaimana sebuah bangsa memaknai kebenaran di tengah dominasi laporan dan indikator. Kejujuran sejati tidak diukur dari seberapa indah grafik yang ditampilkan, melainkan dari keberanian untuk menghadapi kenyataan yang kompleks, bahkan pahit.
Indonesia, hari ini, tidak kekurangan angka. Tantangannya adalah memastikan angka-angka itu setia pada manusia yang diwakilinya. Sebab hanya dengan shiddiq semacam itulah kebijakan dapat menjadi bukan sekadar efisien, melainkan adil dan manusiawi.***





