Program Merdeka Belajar — Kampus Merdeka (MBKM), yang pertama kali digagas oleh Menteri Nadiem Anwar Makarim, banyak mendapat kritik dalam implementasinya di lapangan. Bagaimana nasib MBKM di tangan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dikti Saintek) periode 2024-2029, Prof. Dr. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro?
Satryo Soemantri Brodjonegoro resmi menjabat sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) dalam kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran periode 2024-2029.
Pengangkatan ini merupakan hasil pemecahan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menjadi tiga entitas terpisah. Selain Satryo, Abdul Mu’ti ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, sementara Fadli Zon dipercaya mengemban tugas sebagai Menteri Kebudayaan.
Dalam menjalankan tugasnya, Satryo akan didampingi oleh dua wakil menteri, yaitu Stella Christie dan Fauzan. Kedua wakil menteri tersebut diharapkan dapat mendukung Satryo dalam memperkuat program-program pendidikan tinggi, riset, serta pengembangan teknologi di Indonesia.
Hal ini sejalan dengan visi pemerintahan baru yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming.
Dalam acara serah terima jabatan di Gedung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada Senin (21/10/2024), Satryo menegaskan pentingnya kesinambungan program tersebut sambil melakukan sejumlah penyempurnaan sesuai kebutuhan.
“Kita lanjutkan dengan berbagai perbaikan yang diperlukan. Yang sudah baik akan dipertahankan, dan yang belum akan diperbaiki,” ujar Satryo dikutip dari akun Youtube Kemendikbud RI.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar menteri-menterinya segera bekerja setelah dilantik. Namun, Satryo menekankan bahwa perubahan dalam sistem pendidikan, khususnya program MBKM, harus dilakukan secara bertahap untuk menjaga kelancaran proses pendidikan dan menghindari kekacauan yang dapat merugikan siswa dan tenaga pendidik.
Dikutip dari laman Dikti Kemdikbud, tujuan utama dari program MBKM adalah untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik dalam hal soft skills maupun hard skills, sehingga mereka lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Program ini bertujuan untuk menciptakan lulusan yang mampu beradaptasi, menjadi pemimpin masa depan yang unggul, serta memiliki karakter yang tangguh dan berkepribadian.
Melalui berbagai program pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang fleksibel, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.
Satryo mengungkapkan bahwa program MBKM telah menjadi salah satu pilar penting dalam membangun kemampuan generasi muda Indonesia. Oleh karena itu, kesinambungan program ini akan dijaga dengan beberapa penyempurnaan untuk menjawab tantangan pendidikan di era global.
“Sistem pendidikan harus berjalan konsisten. Kami ingin siswa dan tenaga pendidik merasa nyaman dan bahagia dalam menjalankan tugasnya. Pendidikan berhasil ketika mereka bisa menikmati proses pembelajaran,” tegasnya.
Menurut Satryo, perubahan besar tanpa persiapan matang bisa menimbulkan kebingungan dan dampak negatif bagi pelaku pendidikan. Karena itu, dirinya berkomitmen untuk menghindari perubahan yang bersifat mendadak, dan akan menerapkan pendekatan yang bijaksana untuk setiap kebijakan yang akan dilakukan.
Fokus pada Pemikiran Kritis
Salah satu fokus utama Satryo adalah mengembangkan keterampilan berpikir kritis (critical thinking) di kalangan generasi muda. Keterampilan ini dinilai sebagai bekal yang penting untuk menghadapi masa depan yang semakin kompleks dan dinamis. Satryo berharap lulusan pendidikan tinggi Indonesia dapat lebih mandiri dalam berpikir dan siap bersaing di kancah internasional.
Selain itu, Satryo juga akan memperhatikan penguatan sistem evaluasi yang lebih fleksibel dan adaptif, agar mahasiswa tidak hanya dinilai dari kemampuan akademik, tetapi juga dari kreativitas dan kemandirian berpikir yang mereka miliki.
Meskipun pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan program Merdeka Belajar, tidak sedikit pihak yang merasa perlu dilakukan evaluasi mendalam. Salah satunya adalah Achmad Hidayatullah, PhD, pakar pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya. Dayat menilai bahwa program ini belum sepenuhnya menciptakan kebebasan sejati di dunia pendidikan.
“Guru dan dosen seolah-olah merdeka, padahal kenyataannya mereka justru lebih terbebani dengan urusan administrasi,” ujar Dayat dikutip dari laman resmi UM Surabaya.
Ia menambahkan bahwa guru dan dosen saat ini lebih fokus pada pengisian administrasi untuk kepangkatan, daripada peningkatan kualitas pembelajaran. Beban administratif yang berlebihan, menurutnya, justru menghambat inovasi di dalam kelas.
Dayat juga menyoroti masalah akses pendidikan tinggi yang semakin sulit dijangkau masyarakat kurang mampu. “Pemerintah memang memperluas akses melalui program KIP-K, tetapi biaya kuliah yang terus meningkat membuat masyarakat miskin semakin sulit mengakses pendidikan tinggi,” ungkapnya.
Program dalaman IISMA
Selain itu, program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA), yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar di luar negeri, juga menjadi sorotan. Dayat menilai program tersebut memiliki sejumlah kelemahan, terutama terkait durasi yang singkat dan ketidakjelasan dalam pola seleksi.
“Program IISMA ini memerlukan biaya yang besar, tetapi hasil yang didapat oleh mahasiswa tidak sebanding. Lebih baik anggarannya dialihkan untuk memperkuat KIP-K atau meningkatkan besaran beasiswa bagi mahasiswa yang belajar di luar negeri,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Dayat juga menyoroti kesenjangan antara sekolah di perkotaan dan di daerah. Penggunaan platform digital seperti PMM (Platform Merdeka Mengajar) dan e-kinerja yang diharuskan dalam program Merdeka Belajar dinilai memperlebar kesenjangan tersebut, karena infrastruktur di daerah yang belum memadai.
“Pendidikan di daerah menjadi tertinggal karena mereka tidak bisa mengakses teknologi dengan mudah. Hal ini harus segera diatasi agar tujuan Merdeka Belajar bisa tercapai dengan lebih merata,” tutupnya.*

