Israel Serang Suriah, Gempur Damaskus Bela Kepentingan Kelompok Druze

Israel mengebom gedung di dekat Istana Presiden Suriah, Rabu (17/7/2025). Foto:tangkapan layar
Suriah kembali memanas. Setelah konflik bersenjata antara komunitas Druze dan kelompok suku Sunni di selatan, kini Israel ikut campur tangan dengan melancarkan serangan udara ke jantung ibu kota Damaskus.

__________________

Serangan Israel ini merupakan respons atas bentrokan yang terus meluas di provinsi Sweida, wilayah mayoritas Druze di Suriah. Pemerintah Suriah bersama tokoh agama Druze sempat mengumumkan gencatan senjata baru pada Rabu, 16 Juli 2025, namun belum diketahui apakah perjanjian itu bisa bertahan lama. Gencatan senjata sebelumnya yang diumumkan sehari sebelumnya gagal total.

Salah satu tokoh terkemuka Druze, Syekh Hikmat Al-Hijri melansir laporan Arab News, bahkan terang-terangan menolak kesepakatan damai tersebut. Ia menyebut perjanjian itu tidak mewakili suara komunitas Druze secara keseluruhan.

Di tengah situasi yang belum stabil, Israel mengambil langkah agresif. Jet-jet tempurnya membombardir beberapa target penting di Damaskus, termasuk markas Kementerian Pertahanan Suriah dan area dekat Istana Presiden. Dalam serangan itu, satu orang dilaporkan tewas dan 18 lainnya luka-luka.

Sebagai bahan informasi, Agama Druze adalah kepercayaan monoteistik yang berasal dari Timur Tengah, dan terutama ditemukan di Lebanon, Suriah, dan Israel. Agama ini menggabungkan unsur-unsur dari Islam, Gnostisisme, Hinduisme, serta berbagai filsafat lainnya, dengan penekanan pada penafsiran esoterik terhadap teks-teks suci.

Komunitas Druze, yang berjumlah antara 800.000 hingga 1 juta penganut, dikenal karena keyakinan dan praktiknya yang unik, termasuk menghormati sejumlah nabi seperti Musa dan Muhammad. Secara historis, agama Druze menyimpang dari Islam Syiah, yang menyebabkan komunitas ini terisolasi dan menghentikan aktivitas misionaris mereka akibat persekusi.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa serangan itu adalah “pukulan menyakitkan” yang baru tahap awal. “Kami akan terus menyerang hingga pasukan rezim Suriah menarik diri dari wilayah tersebut,” tegas Katz melalui akun X miliknya. Sebuah brigade besar dilaporkan ditarik dari Gaza dan kini ditempatkan di Dataran Tinggi Golan sebagai persiapan perang skala lebih besar.

Israel menyatakan bahwa langkah ini adalah bagian dari komitmen mereka untuk melindungi warga Druze di Suriah dan menjaga wilayah perbatasan tetap steril dari milisi Islam radikal. Israel juga telah menguasai sebagian zona penyangga di wilayah Suriah dekat Golan yang sebelumnya diawasi oleh PBB.

Kekerasan di Sweida dipicu oleh aksi saling culik dan serang antara kelompok bersenjata Druze dan suku Bedouin Sunni. Pasukan pemerintah Suriah yang berupaya menengahi justru malah bentrok dengan faksi Druze. Situasi makin rumit setelah muncul video-video yang memperlihatkan pembakaran rumah, penjarahan, dan penyiksaan terhadap tokoh-tokoh agama Druze.

Sementara itu, para warga Druze di luar negeri gelisah. Seorang perempuan asal Sweida yang tinggal di Uni Emirat Arab menceritakan bahwa keluarganya bersembunyi di ruang bawah tanah di tengah bunyi tembakan dan dentuman peluru. “Saya tak pernah dengar mereka menangis seperti itu,” katanya.

Laporan dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia menyebut korban tewas sudah tembus 300 orang, termasuk anak-anak dan wanita. Sedikitnya 27 di antaranya dibunuh secara keji dalam eksekusi lapangan.

Menanggapi situasi yang semakin brutal, Presiden Interim Suriah, Ahmad Al-Sharaa, mengutuk tindakan kekerasan baik dari milisi maupun pasukan pemerintah. “Tindakan ini kriminal dan bertentangan dengan nilai-nilai negara,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

Komunitas Druze di Golan pun ikut turun ke jalan, melakukan aksi protes di perbatasan untuk mengecam kekerasan terhadap saudara-saudara mereka di Suriah.

Dengan eskalasi yang terus meningkat dan Israel menyerang Suriah secara terbuka, masa depan kawasan ini kembali di ambang ketidakpastian.

Konflik sektarian, intervensi militer asing, dan kekacauan politik pasca tumbangnya Bashar Assad menciptakan kombinasi berbahaya yang bisa meletus menjadi perang regional yang lebih luas.***