FGSNI mendesak Ditjen Pendis Kemenag menuntaskan PPG, inpassing, dan kuota PPPK guru swasta.
Forum Guru Sertifikasi Nasional Indonesia (FGSNI) menagih realisasi tiga program prioritas Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama terkait nasib guru madrasah Non Aparatur Sipil Negara (ASN) dan non-serdik.
Tiga program itu meliputi penghabisan kuota Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi guru Non ASN dan non-serdik, realisasi inpassing terbaru, serta pengusulan kuota Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk guru madrasah swasta.
Penagihan janji itu disampaikan FGSNI dalam audiensi dengan Kementerian Agama Pusat di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026). Audiensi ini menjadi bagian dari pengawalan program prioritas Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemenag RI.
Ketua Umum Forum Guru Sertifikasi Nasional Indonesia Agus Mukhtar menyatakan pihaknya mengapresiasi hasil Rapat Kerja Nasional Ditjen Pendis, namun menekankan pentingnya realisasi di lapangan.
“Hasil Rakernas Dirjen Pendis Direktorat GTK menghasilkan tiga program prioritas, yakni penyelesaian sertifikasi guru Non ASN, inpassing baru, dan pengusulan guru Non ASN menjadi ASN. Kita mempertanyakan dan menagih janji program prioritas ini,” ujar Agus kepada Samudrafakta, Selasa (20/1/2026).
Sekretaris Jenderal FGSNI Fauzan Mutrofin menambahkan, peningkatan kesejahteraan guru harus diwujudkan melalui Tunjangan Profesi Guru (TPG) Inpassing, termasuk gaji ke-13 dan Tunjangan Hari Raya (THR).
Sementara itu, Humas DPP FGSNI Naseh Hambali menyinggung rencana PPG tahun 2026 yang disebut berbayar mandiri. Isu tersebut dinilai berpotensi menambah beban guru Non ASN yang selama ini telah menghadapi keterbatasan ekonomi.





