Krisis anggaran PBB ancam persempit ruang diplomasi RI dan perlambat respons bencana nasional.
Melemahnya kapasitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akibat krisis anggaran global berpotensi membawa dampak serius bagi Indonesia. Meski tidak berada di garis depan konflik bersenjata dunia, Indonesia menghadapi risiko struktural jangka menengah mengingat posisi strategisnya sebagai negara berkembang yang aktif dalam stabilitas regional.
Selama ini, Indonesia memanfaatkan PBB sebagai “panggung utama” diplomasi sekaligus penopang agenda global, mulai dari isu kemanusiaan hingga perubahan iklim. Jika krisis keuangan di tubuh PBB berlarut, para analis memperkirakan Indonesia tidak akan terdampak secara instan, namun akan merasakan efek domino yang merugikan kepentingan nasional.
Panggung Diplomasi yang Menyusut
Indonesia dikenal aktif memanfaatkan forum PBB untuk memperkuat politik luar negeri bebas aktif, termasuk dalam isu Palestina dan stabilitas Indo-Pasifik. Ketika PBB melemah, efektivitas diplomasi multilateral otomatis menurun. Pengambilan keputusan global berpotensi bergeser ke forum informal atau aliansi terbatas yang didominasi negara adidaya.
“PBB adalah equalizer (penyeimbang). Ketika lembaga ini lemah, suara negara menengah seperti Indonesia ikut melemah,” ujar seorang diplomat Indonesia yang pernah bertugas di misi PBB. Kondisi ini memaksa Indonesia mengeluarkan biaya diplomasi bilateral yang lebih mahal untuk mempertahankan pengaruhnya.
Alarm Bahaya bagi Penanganan Bencana
Sebagai salah satu negara paling rawan bencana di dunia, Indonesia kerap dibantu oleh badan-badan PBB dalam hal pendanaan, logistik, dan koordinasi saat terjadi bencana besar.





