Arab Saudi Cekal Umrah Eks Ketua PWNU Jatim Marzuki Mustamar

KH Marzuki Mustamar. (Humas UNESA) 

Mantan Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar batal berangkat umrah usai dicekal otoritas Arab Saudi di Bandara Soekarno-Hatta meski dokumen lengkap. Ia kini fokus mengajar di pesantren.

Mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar, membenarkan dirinya batal menunaikan ibadah umrah. Ia tertahan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta akibat pencekalan oleh otoritas Arab Saudi.

Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang itu menyebut larangan terbang terjadi saat ia hampir memasuki pesawat. Padahal, administrasi paspor dan visa miliknya tidak bermasalah. Akibatnya, hanya istri dan anaknya yang melanjutkan perjalanan.

“Keberangkatan menuju Tanah Suci yang telah di depan mata, bahkan ketika langkah hampir sampai pada pintu pesawat, ternyata harus tertunda,” kata Marzuki melalui unggahan video di media sosial pribadinya baru-baru ini.

Bacaan Lainnya

Kronologi dan Respons Kemenag

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, Ahmad Subhan, mengaku belum menerima laporan resmi ihwal insiden penolakan tersebut. Ia juga belum mengetahui biro perjalanan wisata yang digunakan oleh Marzuki.

“Belum ada laporan ke kantor, dengan travel mana berangkatnya juga tidak ada informasi,” kata Subhan saat dimintai konfirmasi pada Senin, 12 Oktober 2026.

Jalur Diplomasi yang Buntu

Sebelumnya, Marzuki berupaya mencari kejelasan status pencekalannya melalui jalur diplomasi. Ia menghubungi mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, yang memiliki jaringan relasi di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Riyadh.

“Kami ikhtiar koneksikan dengan orang yang bisa akses ke Saudi lewat Mas Imam Nahrawi. Dia menelepon temannya alumni UIN Jogja yang bekerja di KJRI Riyadh,” ujar Marzuki.

Pihak KJRI Riyadh lantas meneruskan permohonan pembukaan blokir kepada Presidensi Keamanan Negara (PSS), otoritas keamanan tertinggi di bawah Raja Arab Saudi. PSS kemudian meminta waktu dua hari untuk memeriksa data tersebut.

Namun, sistem keamanan Saudi tak kunjung mencabut status blokir setelah Marzuki menunggu di hotel kawasan bandara. “Setelah beberapa hari menanti tidak ada kejelasan, pada hari Jumat, 9 Oktober 2026, saya pulang ke Malang,” tuturnya.

Dugaan Beda Pandangan

Ihwal alasan pencekalan, Marzuki sempat menyinggung adanya perbedaan pandangan yang memicu larangan tersebut. Menurut dia, ketidaksepemahaman kerap kali dibungkus melalui intervensi kekuasaan maupun kepentingan pihak tertentu.

Ia mengimbau agar insiden ini tidak sampai merusak kejernihan hati dan keluhuran akhlak. Saat ini, Marzuki memilih ikhlas dan memusatkan perhatian untuk mendidik para santrinya di pesantren.

“Meskipun Tanah Suci belum dapat kita kunjungi sementara ini, tetap ada banyak jalan untuk mendapatkan syafa’at dari Rasulullah,” kata Marzuki. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan