Arab Saudi Batalkan Skema Tanazul, Tapi Ada Dispensasi untuk Jemaah Haji Indonesia

Kegiatan puncak haji di Armuzna. | AP/Amr Nabil
Skema tanazul untuk jemaah calon haji tahun ini dibatalkan oleh Pemerintah Arab Saudi. Namun, ada dispensasi khusus untuk jemaah Indonesia.

__________

Tanazul adalah skema yang memungkinkan jemaah haji, khususnya yang memiliki kondisi khusus—seperti lansia atau sakit— untuk kembali ke hotel di Mekkah setelah melempar jumrah Aqabah, dan tidak perlu bermalam di Mina. Tujuannya untuk mengurangi kepadatan di Mina.

Menurut Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, pembatalan ini mengikuti keputusan Pemerintah Arab Saudi, yang tidak mengizinkan tanazul bagi seluruh negara. Alasannya adalah keselamatan dan potensi kepadatan ekstrem di jalur-jalur menuju hotel.

Bacaan Lainnya

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sedianya bakal memberlakukan skema layanan khusus tersebut pada ibadah haji tahun ini. Program telah ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Nomor 137/2025.

Kemenag sempat menyiapkan skema tanazul bagi sekitar 36 ribu jemaah haji Indonesia untuk mengurangi kepadatan di Mina. Pemerintah RI juga telah berhasil melobi Pemerintah Arab Saudi agar diizinkan tanazul—dengan alasan banyak jemaah haji RI termasuk lansia dan risiko tinggi.

Namun, rupanya tanazul tahun ini ditiadakan oleh Pemerintah Arab Saudi. Berlaku untuk semua negara, termasuk Indonesia.

“Begitu Pemerintah Saudi memutuskan tidak ada tanazul, kami langsung mengubah data dan seluruh skema yang sudah disiapkan, termasuk konsumsi dan layanan kesehatan, dalam hitungan jam. Saya ucapkan terima kasih untuk tim yang begitu kompak,” ujar Menag Nasaruddin, dalam konferensi pers di Mekkah, Rabu, 4 Juni 2025.

Namun demikian, kata Nasaruddin, Pemerintah Saudi memberi dispensasi kepada Indonesia untuk tetap menjalankan tanazul bagi jemaah yang sangat riskan.

“Ada sekitar 3.500 jemaah yang kami laporkan kondisinya berisiko tinggi, lansia, komorbid, difabel, dan kelelahan berat. Maka khusus untuk mereka, tanazul tetap diizinkan,” jelas Nasaruddin.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 jemaah dinyatakan benar-benar dalam kondisi berat, dan sebagian di antaranya akan menjalani safari wukuf dengan skema baru.

“Safari wukuf kali ini tidak seperti konsep awal. Mereka tetap berangkat lebih awal menuju Arafah, lalu langsung ke kemah di Mina tanpa keluar, karena mobilitasnya sangat terbatas,” kata dia.

Sementara itu, sekitar 250 jemaah lainnya yang dirawat di rumah sakit dan tidak bisa bergerak sama sekali akan dibadalkan ibadahnya. “Badal haji ini dibiayai penuh oleh Pemerintah Saudi, karena mereka sangat concern terhadap jemaah Indonesia. Satu badal haji bisa mencapai Rp 20 juta. Kalau 1.000, berarti Rp20 miliar,” ungkap Menag.

Untuk memastikan pelaksanaan badal dan taukil berjalan sah dan aman, PPIH menunjuk mustasydin atau ulama muda yang paham fikih haji. “Kami tidak menggunakan orang luar, agar tidak terjadi penipuan,” tegasnya.

Seluruh proses ini, kata Nasaruddin, merupakan hasil diplomasi yang panjang. Bahkan, ambulans Indonesia menjadi satu-satunya ambulans asing yang diizinkan masuk ke kawasan Arafah dan Mina.

“Ini bentuk penghormatan luar biasa dari Pemerintah Saudi kepada Indonesia,” ucapnya.

Nasruddin berharap, semua ikhtiar yang dilakukan pemerintah bersama lebih dari 2.500 petugas haji Indonesia bisa memastikan seluruh 221 ribu jemaah dapat menjalani puncak haji dengan aman.***

Pos terkait