Citra satelit NASA menunjukkan paparan gas karbon monoksida pekat menyelimuti wilayah Indonesia. BRIN menyebut kebakaran gambut dan polusi sebagai pemicu utama fenomena mematikan ini.
Peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Albertus Sulaiman, mengonfirmasi temuan citra satelit NASA yang merekam kepungan gas karbon monoksida (CO) pekat di seluruh wilayah Indonesia pada Sabtu (17/10/2026).
Menurut Albertus, sebaran gas beracun yang ditandai warna merah gelap pada peta tersebut dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan. Titik api terpantau membentang mulai dari wilayah Kalimantan, Sumatra, hingga Papua.
“Jika terjadi kebakaran gambut, maka akan menghasilkan gas CO, karena kebakaran lahan gambut termasuk pembakaran tak sempurna,” kata Albertus melalui pesan singkat, Sabtu.
Akumulasi Polusi di Pulau Jawa
Lebih lanjut, Albertus menilai pekatnya gas CO yang menyelimuti Pulau Jawa tidak serta-merta merupakan imbas langsung dari kebakaran di Kalimantan. Terdapat faktor lokal yang memperparah kualitas udara di kawasan tersebut.
Ia menjelaskan, insiden kebakaran gunung yang terakumulasi dengan polusi udara harian turut menyumbang produksi gas karbon monoksida dalam jumlah besar di Jawa. Kondisi ini membuat sebaran memburuk.
Ancaman Pembunuh Senyap bagi Kesehatan
Kondisi atmosfer yang jenuh dengan gas CO membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Karakteristik gas ini berbahaya karena tidak memiliki warna, tidak berbau, dan berpotensi meracuni darah.
Mengacu pada data Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), paparan karbon monoksida berdampak fatal. Pada tingkat rendah, gas ini memicu kelelahan dan nyeri dada bagi penderita penyakit jantung.
Konsentrasi menengah menyebabkan gangguan penglihatan dan penurunan fungsi otak. Sementara pada level tinggi, paparan memicu sakit kepala hebat, mual, kehilangan koordinasi tubuh, hingga berujung pada kematian.
Albertus memperingatkan bahwa kondisi saat ini bisa membawa petaka besar jika terus dibiarkan tanpa penanganan. “[Gas CO] mematikan. CO disebut silent killer,” ujarnya.
Solusi Ekologis Restorasi Gambut
Ihwal mitigasi, Albertus menyatakan satu-satunya cara mereduksi gas karbon monoksida secara menyeluruh adalah mengembalikan hutan gambut ke kondisi alami. Langkah ini krusial untuk mencegah kekeringan ekstrem.
Pemulihan ekosistem gambut secara tidak langsung akan mengatur iklim mikro dan menjaga kelembapan di kawasan rawan api, sehingga risiko kebakaran hutan dapat ditanggulangi.
“Secara ekologis, gambut akan memproduksi hujan sendiri, jadi tak ada kemarau panjang,” katanya.***





