Penyebab masih terjadinya karhutla di Indonesia adalah periode El Nino yang berlangsung cukup lama. Ditambah lagi, curah hujan yang mendekati nol sehingga membuat kondisi bahan bakar, seperti lahan gambut, menjadi lebih rentan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia masih sulit dipadamkan karena kondisi kering berkepanjangan membuat bahan bakar, terutama lahan gambut, semakin rentan terbakar. Bara api yang bertahan di bawah permukaan gambut juga berpotensi memicu kebakaran kembali meskipun api di permukaan telah padam.
Pakar kebakaran hutan dan lahan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, S.Hut., M.Sc., menjelaskan bahwa periode El Nino yang berlangsung cukup lama dan curah hujan yang sangat rendah meningkatkan kerentanan bahan bakar terhadap kebakaran.
“Jadi memang curah hujannya minimum dan ini bukan di awal-awal musim. Artinya, semakin lama semakin masuk ke periode El Nino, curah hujannya mendekati nol, kondisi bahan bakar (gambut) itu menjadi lebih rentan,” ungkap Fiqri, seperti dikutip dari laman UGM, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Fiqri, kekeringan bukan satu-satunya penyebab kebakaran. Karhutla terjadi ketika sumber panas atau penyulutan berinteraksi dengan bahan bakar dan oksigen. Karena itu, kebakaran dapat terjadi di berbagai ekosistem, baik di lahan gambut maupun non-gambut.
“Bukan gambutnya yang kemudian menyebabkan kebakaran. Kebakaran itu terjadi karena interaksi antara ekosistem dan juga sumber panas. Karhutla dapat terjadi di berbagai jenis ekosistem, baik gambut maupun non-gambut. Perbedaan utamanya terletak pada karakteristik dan perilaku api ketika kebakaran berlangsung,” jelasnya.
Bara di Bawah Gambut Picu Kebakaran Berulang
Fiqri menjelaskan, kebakaran di lahan non-gambut umumnya terjadi di permukaan dan dapat menjalar hingga tajuk tanaman. Sementara itu, api di lahan gambut dapat membakar permukaan sekaligus lapisan tanah di bawahnya.
Kondisi tersebut membuat proses identifikasi dan pemadaman lebih kompleks. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun nyala api yang terlihat telah berhasil dipadamkan.
Jika penyiraman hanya menjangkau lapisan atas, bara di bagian bawah masih dapat bertahan dan memicu munculnya titik api baru. Karena itu, keberhasilan pemadaman perlu dinilai berdasarkan kedalaman dan lokasi kebakaran, bukan sekadar hilangnya nyala api.
“Gejala kebakaran di bawah permukaan itu, sebenarnya, dapat dikenali melalui kondisi vegetasi yang mengering, daun yang menggulung, serta munculnya asap meskipun tidak terlihat nyala api,” tuturnya.
Menurut Fiqri, identifikasi kondisi lapangan perlu dilakukan secara memadai untuk memastikan sumber bara telah ditangani. Penyiraman yang tidak menjangkau bagian gambut yang terbakar berisiko membuat api kembali muncul atau merambat ke area lain.
Akses Sulit dan Keterbatasan Air Hambat Pemadaman
Selain karakteristik gambut, keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran turut menghambat upaya pemadaman. Sejumlah titik api berada di wilayah yang sulit dijangkau, sedangkan sumber air, personel, dan sarana-prasarana pemadaman belum selalu tersedia dalam jumlah memadai.
Ketika api telanjur meluas, petugas membutuhkan sumber daya dan waktu lebih besar untuk mengendalikan kebakaran.
“Di beberapa area, sumber airnya terbatas sehingga api tidak bisa langsung dipadamkan seketika. Kebakarannya juga semakin luas, sementara di beberapa wilayah personel ataupun sarana-prasarananya terbatas,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan nyala api yang terlihat. Petugas juga perlu memastikan tidak ada bara yang tersisa di bawah permukaan, terutama di kawasan gambut.
Sistem Deteksi Titik Api Perlu Dioptimalkan
Dalam pemantauan karhutla, Indonesia memiliki sejumlah sistem pendeteksi dan pemantau titik api, di antaranya Fire Information for Resource Management System (FIRMS), Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi), serta informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Fiqri menilai kemampuan teknologi untuk mendeteksi titik api sudah cukup baik. Namun, data yang dihasilkan tetap perlu dianalisis dengan mempertimbangkan tingkat keyakinan atau confidence level agar petugas dapat menilai informasi secara tepat.
“Kemampuan deteksi titik api saat ini sudah cukup baik. Namun, data deteksi tetap perlu dibaca dengan mempertimbangkan tingkat keyakinan atau confidence level,” ujarnya.
Menurut dia, tantangan berikutnya adalah meningkatkan efektivitas teknologi dan metode pemadaman, khususnya untuk menangani kebakaran di bawah permukaan gambut.
Sejumlah pendekatan, seperti penyuntikan air ke dalam gambut dan penggunaan bahan untuk mendinginkan atau mengisolasi api, telah dikembangkan. Meski demikian, metode dan bahan yang digunakan masih memerlukan pengembangan lebih lanjut agar pemadaman dapat menjangkau sumber kebakaran.
Pencegahan Karhutla Tak Bisa Hanya Mengandalkan Hujan
Fiqri menegaskan bahwa penanganan karhutla perlu mengutamakan pencegahan sekaligus memperkuat kemampuan pemadaman. Salah satu langkah pencegahan ialah meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak menggunakan api untuk membuka atau menyiapkan lahan, terutama di wilayah yang rentan terbakar saat musim kemarau.
Penyebaran api dan asap juga dipengaruhi oleh distribusi bahan bakar, kondisi topografi, serta faktor iklim, termasuk arah angin. Faktor-faktor tersebut menentukan perkembangan kebakaran dan pergerakan asap sehingga dampaknya dapat meluas hingga ke wilayah lain.
Selain pencegahan, penanganan kebakaran membutuhkan koordinasi lintas instansi dan penentuan wilayah prioritas berdasarkan tingkat risiko. Penentuan prioritas perlu mempertimbangkan dampak ekologis, kerugian ekonomi, serta konsekuensi sosial bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
“Perlu upaya yang dilakukan tidak hanya dari satu instansi saja, tetapi juga dari berbagai instansi. Penanganannya dapat diarahkan ke wilayah-wilayah prioritas yang memang memiliki risiko tinggi,” tuturnya.
Dengan demikian, pencegahan, pengawasan wilayah rawan, pengembangan metode pemadaman, dan koordinasi lintas instansi perlu berjalan beriringan. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang dan dampak karhutla, terutama ketika kondisi kering meningkatkan kerentanan bahan bakar terhadap api. ***





