Kolaborasi ilmuwan Jepang dan Indonesia menguji coba jaringan pengeras suara masjid sebagai sistem peringatan dini gempa bumi yang menjangkau hingga pelosok.
Pemimpin proyek dari Institut Penelitian Pencegahan Bencana Universitas Kyoto, Dr Inoue Hiroshi, menyatakan pihaknya tengah menguji pemanfaatan pengeras suara masjid untuk sistem peringatan dini gempa bumi. Proyek bersama ilmuwan Indonesia ini direncanakan berlangsung hingga 2030 mendatang.
Keunggulan Infrastruktur Masjid
Inoue menjelaskan gagasan inovatif ini muncul dari pengalamannya saat meneliti gempa mematikan di Sumatra. Ia menilai pengeras suara menjadi infrastruktur strategis karena sudah tersedia dan dirawat rutin oleh masyarakat setempat.
“Setiap komunitas memiliki masjid,” kata Inoue. Kondisi ini diklaim mampu mengatasi salah satu kendala utama dalam infrastruktur peringatan bencana, yakni masalah pemeliharaan perangkat.
Jaringan rumah ibadah ini dinilai berpotensi melengkapi teknologi alarm yang selama ini sangat bergantung pada telepon seluler. Hal tersebut krusial mengingat jaringan komunikasi sering terputus atau terganggu ketika gempa besar terjadi.
Prototipe dan Waktu Respons
Kepala tim riset gabungan Indonesia sekaligus Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Eka Sakya, menyebut inisiatif ini berpeluang menjadi terobosan baru. Walau menjanjikan, sistem tersebut masih terus disempurnakan.
Selain itu, Andi menguraikan bahwa warga yang berada dalam radius 50 kilometer dari pusat gempa umumnya hanya memiliki waktu sekitar lima hingga sepuluh detik untuk merespons usai gelombang seismik terdeteksi.
Menurut Andi, perangkat alarm uji coba ini belum diaktifkan secara luas. “Ini masih berupa prototipe, dan mereka belum mengeluarkan peringatan kepada masyarakat umum,” ucap Andi.
Perbedaan Strategi Keselamatan
Ihwal evakuasi, para peneliti juga mengkaji perbedaan perilaku masyarakat kawasan Cincin Api Pasifik. Di Jepang, pedoman resmi berfokus pada strategi merunduk dan berlindung (drop and cover) di bawah meja saat berada di dalam ruangan.
Sebaliknya, rumah bertingkat rendah di Indonesia kerap dibangun tanpa tulangan penahan yang rentan runtuh. Hal ini mendorong warga Indonesia untuk memilih strategi evakuasi dengan berlari ke luar ruangan sesegera mungkin.
Mengingat standar internasional tidak selalu cocok, para peneliti melakukan simulasi dan eksperimen untuk menyusun pedoman evakuasi berbasis sains. Sebelumnya, Uzbekistan juga telah meluncurkan proyek percontohan serupa di 272 masjid guna memberi peringatan ancaman banjir dan longsor.
“Reaksi masyarakat adalah segera melarikan diri ke luar ruangan. Mereka tahu cara menyelamatkan diri,” kata Inoue.***





