Kementerian Agama mendorong penerapan wasathiyah untuk menjaga kerukunan umat lewat Konferensi Negara-Negara ASEAN Keempat di Kamboja.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, menekankan pentingnya wasathiyah sebagai panduan beragama dan berakhlak. Pesan ini ia sampaikan di Konferensi Negara-Negara ASEAN Keempat “Khair Ummah” di Kamboja.
Acara yang berlangsung pada Senin, 5 Oktober 2026, ini berfokus pada moderasi perilaku dan manhaj. Muchlis hadir memimpin sidang mewakili Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama Tenaga Ahli Menteri Agama, Bunyamin Yafid.
“Pemahaman agama yang benar dan seimbang harus melahirkan akhlak yang baik,” kata Muchlis. Ia menuturkan kedalaman ilmu tercermin dari keadilan saat menilai dan kebijaksanaan kala menghadapi perbedaan.
Tantangan Ekstremisme di Era Digital
Terkait relevansi wasathiyah, Muchlis menilai konsep ini krusial di tengah ancaman ekstremisme dan intoleransi. Ketegangan sektarian hingga Islamofobia menuntut respons berbasis keilmuan yang memadai.
Penyebaran disinformasi dan potongan pernyataan di ruang digital turut memicu kesalahpahaman. Karena itu, adab dan kejernihan berpikir menjadi benteng utama dalam menyikapi ragam informasi.
“Perbedaan pandangan perlu dikelola dengan ilmu dan akhlak. Kita dapat menyampaikan pendirian secara tegas sambil tetap menjaga kehormatan orang lain,” tuturnya.
Empat Indikator Moderasi Indonesia
Selain itu, delegasi Kementerian Agama membagikan pengalaman Indonesia dalam merawat keragaman. Pemerintah menerapkan empat indikator utama moderasi beragama untuk membangun harmoni sosial masyarakat.
Keempat indikator tersebut meliputi komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Prinsip ini dinilai efektif meredam gesekan di tengah masyarakat yang majemuk.
Muchlis menyebut moderasi beragama bukan sekadar jargon, melainkan hasil pendidikan yang berkelanjutan. Hal tersebut juga membutuhkan sinergi yang kuat antara ulama dan kelembagaan masyarakat.
Sinergi ASEAN Hadapi Intoleransi
Sebelumnya, konferensi inisiasi Arab Saudi dan Kamboja ini pernah dihelat di Bali pada 2022. Sidang kali ini melibatkan pakar seperti Asad Ismail dari Myanmar dan Ibrahim Abdullah Ibrahim dari Filipina.
Turut hadir sebagai pembicara, Abdulhalim bin Muhammad Ali asal Kamboja serta Muhammad bin Ali Al-Abdullatif dari Arab Saudi. Mereka berdiskusi mencari langkah konkret penerapan manhaj yang utuh.
Muchlis mendorong pertukaran pengalaman antarnegara dalam menanamkan nilai wasathiyah. Menurutnya, keragaman agama dan bahasa di kawasan Asia Tenggara menuntut strategi dakwah yang lebih adaptif.
Pada akhir sesi, ia mengingatkan agar gagasan dari forum ini segera dibawa ke ruang pendidikan dan masyarakat. “Manfaatnya akan semakin terasa ketika menjadi perilaku dan program yang memperkuat kepercayaan serta kerja sama di tengah masyarakat,” ujarnya.***





