Mahasiswa Unair Kembangkan Malaiscope Deteksi Malaria

Mahasiswa Unair
Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) yang berhasil mendapatkan pendanaan dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan mendorong hadirnya Malaiscope. - Humas Unair

Malaiscope dirancang untuk membantu klasifikasi sel darah otomatis agar diagnosis malaria lebih cepat, akurat, dan terjangkau di wilayah terpencil.

Mahasiswa Universitas Airlangga mengembangkan Malaiscope, sistem cerdas untuk klasifikasi sel darah otomatis dalam diagnosis malaria.

Inovasi itu memperoleh pendanaan dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa dan diarahkan untuk membantu wilayah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan, laboratorium, serta teknologi diagnosis.

Bacaan Lainnya

“Karena sumber daya manusia kami berasal dari bidang kesehatan, teknis, dan sosiologi, tentunya kami mencoba untuk menjadi inisiator dan inovator dari masalah yang terjadi di lapangan,” kata Stefanus, Minggu (28/6/2026).

Tim pengembang berasal dari mahasiswa Vokasi dan FISIP Unair. Mereka antara lain Stefanus Adi Nugraha, Rani Dwi, Mutia Nastiti, Habib Aulia, dan Ardhia Hanindya.

Diagnosis Cepat di Daerah Terpencil

Malaiscope dirancang untuk mendeteksi parasit malaria pada sel darah merah. Sistem ini diklaim mampu memberi hasil deteksi yang lebih cepat, akurat, dan presisi dibanding metode konvensional.

Habib menjelaskan teknologi tersebut diharapkan mempermudah analis laboratorium dalam menentukan status infeksi pasien secara efisien.

Kebutuhan inovasi diagnosis masih besar karena Indonesia masih mencatat ratusan ribu kasus malaria. Organisasi Kesehatan Dunia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas diagnosis dan pengobatan tepat untuk mendukung eliminasi malaria.

“Kami berharap Malaiscope dapat membantu meningkatkan akses diagnosis malaria yang cepat, akurat, dan terjangkau di daerah terpencil yang memiliki keterbatasan tenaga kesehatan maupun fasilitas laboratorium,” kata Rani.

Tim berharap pengembangan Malaiscope berlanjut agar dapat menekan keterlambatan diagnosis dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah terpencil.

“Harapan kami, inovasi alat deteksi malaria ini dapat terus dikembangkan agar lebih akurat, mudah digunakan, dan memberikan manfaat nyata dalam membantu deteksi dini serta meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat,” ucap Mutia. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan