Puluhan tahun menyisihkan hasil tani di dalam ember, Nenek Jumaria rela makan daun ubi demi menjejakkan kaki di tanah suci Madinah.
Sorot mata Jumaria tampak tenang, namun menyimpan kedalaman makna saat ia mengenang perjalanan panjangnya menuju Tanah Suci. Di usianya yang menginjak 70 tahun, perempuan bersahaja asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan ini akhirnya merasakan semilir angin Kota Madinah.
Perjalanan ini bukanlah tentang kemewahan, melainkan sebuah monumen kesabaran yang ia bangun dari butir-butir padi selama puluhan tahun.
Bagi Jumaria, setiap jengkal tanah di sawah adalah saksi bisu harapannya. Ia tidak memiliki gaji tetap atau investasi besar. Seluruh biaya hajinya murni terkumpul dari peluh di sawah dan kebun yang ia jalani dengan penuh ketekunan.
Rutinitas Pagi di Tengah Kesunyian Sawah
Sehari-hari, Jumaria memulai hidup saat fajar bahkan belum sepenuhnya menyingsing. Dengan bekal seadanya, ia melangkahkan kaki menuju sawah demi menyambung hidup sekaligus memupuk tabungan surganya.
“Kerja sawah. Kalau pagi jam 6 pergi, bawa air setengah liter. Habis itu pulang. Pulang mandi, makan. Sudah makan tidur sedikit, baru shalat,” tutur Jumaria dengan suara lirih yang bergetar.
Selama bertahun-tahun, ia tinggal seorang diri di sebuah rumah sederhana. Letaknya cukup terpencil, jauh dari hingar-bingar permukiman warga di Desa Kurusumange, Kecamatan Tanralili. Di tengah kesunyian itu, ia merawat mimpinya tanpa banyak mengeluh.
Rahasia Ember dan Kain Bekas di Bawah Kasur
Cara Jumaria menyimpan uang mungkin akan membuat orang modern terenyuh. Tanpa rekening bank atau brankas besi, ia menyembunyikan uang hasil jerih payahnya di tempat-tempat tak terduga agar tidak terpakai untuk keperluan lain.
“Kalau sudah panen padi, saya jual, baru kusimpan,” ungkapnya. Tak hanya mengandalkan sawah sendiri, ia pun kerap bekerja di kebun milik orang lain demi upah yang tak seberapa. Namun, kedisiplinannya luar biasa. Semua upah itu masuk ke “bank” pribadinya.
“Ada lagi itu punya kebun yang kukerja, dia kasih, saya simpan. Kalau ada makanan dibawakan, saya simpan semua (uangnya),” ceritanya. Uang-uang tersebut ia selipkan di bawah tempat tidur atau dimasukkan ke dalam ember, lalu ditutupi dengan tumpukan kain usang.
“Di bawah tempat tidur. Baru saya tutup kain-kain jelek supaya tidak ada yang tahu. Gitu cucuku bilang ada uang di sini,” kenangnya sambil tersenyum kecil. Strategi sederhana ini berhasil menjaga impiannya tetap utuh selama hampir dua dekade.
Bertahan Hidup dengan Daun Ubi demi Tanah Suci
Keteguhan hati Jumaria diuji saat kondisi ekonominya sedang sulit. Alih-alih mengambil uang tabungan, ia memilih untuk mengetatkan ikat pinggang. Baginya, uang di dalam ember adalah “harta haram” untuk disentuh sebelum tujuannya tercapai.
“Kalau kumasukkan di ember, saya tidak ambil belikan,” tegasnya.
Saat tidak memiliki uang untuk membeli lauk, ia cukup memetik daun ubi yang tumbuh liar di sekitar rumahnya. “Ambil saja daun ubi, saya masak. Masak yang ada saja. Saya tidak mau ambil itu yang kusimpan,” tambahnya lagi.
Sesekali, telur dari ayam peliharaannya menjadi santapan istimewa. Kesederhanaan ekstrem ini ia jalani tanpa sisa dendam pada keadaan, karena ia tahu setiap sen yang ia simpan membawanya selangkah lebih dekat ke Kakbah.
Menjadi Ikon Haji 2026
Kini, pengorbanan itu berbuah manis. Kisah Nenek Jumaria viral setelah diangkat oleh Otoritas Keimigrasian Arab Saudi melalui akun @makkahroute. Wajahnya yang teduh dianggap mewakili semangat jemaah Indonesia yang berangkat dengan penuh perjuangan.
Pemerintah kemudian memilihnya sebagai Ikon Haji 2026 dalam program Makkah Route. Di usia senja, fisiknya yang bugar mencengangkan banyak orang, sebuah anugerah dari kebiasaannya yang aktif bekerja secara mandiri selama puluhan tahun.
Perjalanan Jumaria adalah pengingat bagi kita semua. Ibadah haji bukan sekadar tentang siapa yang paling kaya, melainkan tentang siapa yang paling teguh memelihara keyakinannya. Setelah dua dekade menanti, langkah renta itu kini telah sampai di tanah impian, membuktikan bahwa kesabaran yang dibalut doa takkan pernah mengkhianati hasil.***





