AS malah panik usai menyerang Iran, dan meminta China menekan Teheran agar tak menutup Selat Hormuz—jalur vital 20 persen minyak dunia itu. Pasalnya, menurut AS, penutupan selat bisa memicu krisis global dan mengguncang ekonomi banyak negara.
__________
Amerika Serikat (AS) justru panik setelah menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada Sabtu, 21 Juni lalu waktu setempat–atau Ahad dinihari WIB. Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), Marco Rubio meminta kepada pemerintah China untuk menekan Teheran agar tidak menutup Selat Hormuz.
Pernyataan Rubio itu, seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya, Senin, 23 Juni 2025, disampaikan setelah media Press TV melaporkan parlemen Iran menyetujui langkah untuk menutup Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20 persen permintaan minyak dan gas global.
“Saya mendorong pemerintah China di Beijing untuk menghubungi mereka (Iran-red) tentang hal itu (penutupan Selat Hormuz), karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk minyak mereka,” ucap Rubio, dalam wawancara dengan program Fox News“Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo”.
“Pihak pertama yang seharusnya marah atas hal ini adalah pemerintah China, karena sebagian besar pasokan minyak mereka melewati jalur itu,”imbuh Rubio.
Kata Rubio, penutupan Selat Hormuz bisa berdampak pada dunia, terutama bagi China.
“Mereka seharusnya menjadi pihak pertama yang mengatakan, jika Iran menanam ranjau di Selat Hormuz, maka China akan menanggung dampak besar, dan negara-negara lain di dunia juga akan terkena dampaknya. Kami juga, tentu saja.”
“Tapi dampaknya terhadap kami jauh lebih kecil dibanding negara-negara lain,” ujar Rubio, dalam wawancara dengan CBS News.
Pada kesempatan lain, Rubio juga menyebut penutupan Selat Hormuz membunuh ekonomi Iran.
“Itu sama saja bunuh diri secara ekonomi bagi Iran jika mereka benar-benar melakukannya,” kata Rubio di Fox News.
Dengan jumawa, Rubio mengklaim AS sebenarnya memiliki berbagai opsi untuk menghadapi situasi itu. Tetapi, langkah penutupan Selat Hormuz dinilainya dapat merusak perekonomian negara-negara lain lebih besar ketimbang dampak bagi AS.
Ia juga mengatakan bahwa hal itu akan memicu “eskalasi besar-besaran yang akan memancing respons, bukan hanya dari kami, tapi juga dari negara-negara lain.”
AS sendiri menempatkan Armada Kelima Angkatan Lautnya di Bahrain, yang bertugas mengamankan jalur perdagangan maritim di kawasan Teluk Persia
Sampai sekarang, belum ada tanggapan langsung dari Kedutaan Besar China di AS atas pernyataan Rubio tersebut.
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz
Sebelumnya, media pemerintah Iran pada Ahad, 22 Juni 2025, mengumumkan kalau parlemen Iran telah menyetujui mosi untuk menutup Selat Hormuz yang strategis. Keputusan final untuk menutup Selat Hormuz, menurut laporan Press TV, akan diambil oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Iran sejak lama menggunakan ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai cara untuk menangkal tekanan Barat yang sekarang mencapai puncaknya setelah serangan AS terhadap fasilitas nuklirnya. Ketika ditanya apakah Iran akan menutup Selat Hormuz, Menlu Abbas Araghchi mengelak untuk menjawab: “Berbagai pilihan tersedia bagi Iran.”
Selat Hormuz merupakan salah satu titik rawan maritim paling penting di dunia, yang berfungsi sebagai pintu gerbang utama ekspor minyak dari kawasan Teluk. Terletak di antara Iran di utara dan Oman serta UEA di selatan, jalur air sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20 persen pasokan minyak global, lebih dari 17 juta barel per hari, melewati selat strategis ini, sehingga sangat penting bagi pasar energi internasional.
Iran sendiri merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, yang menghasilkan 3,3 juta barel per hari. Iran mengekspor 1,84 juta barel per hari bulan lalu. Menurut Kpler, sebagian besar minyak Iran dijual ke China. Sekitar setengah dari impor minyak mentah China melalui perairan berasal dari Teluk Persia. ***





