Dua Kali Peralatan Dicuri
Hendra mengklaim, semua peralatan yang dipasang PVMBG untuk mengamati Gunung Marapi berfungsi saat letusan tiba-tiba gunung tersebut terjadi 3 Desember 2023.
“Memang pernah ada gangguan pada awal 2023 ini. Pada Maret peralatan di Stasiun GGSL di timur sempat dicuri, dan ini sudah dua kali kecurian, 2020 dan 2023,” kata Hendra.
Hendra mengatakan, dengan peralatan kendati alat sudah lengka, data yang terpantau tetap minim karena Gunung Marapi sendiri minim menunjukkan aktivitasnya. Misalnya, kata dia, gunung tersebut jarang menghasilkan gempa vulkanik yang biasanya menjadi penanda erupsi pada umumnya gunung api.
“Sangat miskin gempa vulkanik di Gunung Marapi,” kata dia.
Tingkat kesulitan itulah yang menjadi alasan PVMBG untuk menetapkan status aktivitas Gunung Marapi berada di Level II sejak tahun 2011. Dengan status tersebut, PVMBG merekomendasikan agar mengantisipasi letusan Gunung Merapi yang bisa tiba-tiba saja terjadi.
PVMBG, dalam imbauan tertulisnya, meminta masyarakat agar tidak mendekat dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Marapi. “Oleh karenanya, kami buat rekomendasi tiga kilometer berdasarkan statistik adanya erupsi setiap dua sampai empat tahun. Hanya saja tanggal dan bulan kami tidak pernah tahu. Ini kondisinya,” kata Hendra.
Dia mengatakan, pada 3 Desember 2023 pukul 14.54 WIB terjadi letusan tiba-tiba yang menghasilkan abu setinggi 3 kilometer. Letusan dengan intensitas tersebut memang bukan yang pertama, dan bukan terhitung yang terbesar. “Sekitar 2017, erupsi kurang lebih sama, dan saat itu sedang banyak pendaki juga, tetapi tidak ada korban,” katanya.





