LAMONGAN–Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mempunyai tradisi pernikahan yang unik. Berbeda dari beberapa tempat lain di Jawa, di Lamongan, justru wanita yang melamar pria, bukan sebaliknya.
Dalam istilah lokal, tradisi itu disebut ‘ganjuran’. Konon, tradisi ini sudah ada sejak zaman Raden Panji Puspokusumo, penguasa Lamongan pada tahun 1640-1652. Raden Panji diyakini sebagai keturunan ke-14 Prabu Hayam Wuruk, raja Majapahit.
Alkisah, Penguasa Lamongan, Raden Panji Puspokusumo, punya dua putra tampan, Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris. Mereka punya hobi yang sama: sabung ayam.
Suatu ketika, putra kembar itu mengikuti sabung ayam di daerah Wirosobo—yang sekarang dikenal sebagai Kertosono, Kabupaten Nganjuk. Ketika di sana, ketampanan Panji Laras dan Liris ternyata membuat dua putri kembar Raja Wirosobo, Dewi Andansari dan Andanwangi, terpesona. Mereka langsung jatuh cinta kepada dua pemuda Lamongan tersebut.
Keduanya pun mendesak agar sang ayah, Raja Wirosobo, melamar Panji Laras dan Panji Liris. Langkah tersebut melanggar kebiasaan ketika itu, di mana biasanya pria lah yang melawar wanita. Tapi, demi sang putri kembar, Raja Wirosobo menyanggupi.
Panji Puspokusumo tak serta merta menerima lamaran tersebut. Dia bertanya dulu kedua putranya. Ternyata, putra kembarnya menolak karena masih ingin membujang.
Panji Puspokusumo tidak enak langsung menolak. Dia pun memberi syarat yang berat, yang menurutnya bakal susah dipenuhi oleh Raja Wirosobo. Dia meminta supaya Andanwangi dan Andasari membawa sendiri dua gentong dan dua kipas batu dari Wirosobo ke Lamongan.
Di luar dugaan, ternyata Andanwangi dan Andansari hampir mampu memenuhi persyaratan tersebut. Mereka membawa gentong itu melewati Kali Lamong. Sebelum keduanya menyeberang ke Kali Lamongan, Panji Laras dan Liris ternyata sempat curi-curi kesempatan melihat kecantikan calon istri mereka itu.
Tapi, ketika menyeberang kali, kain Andanwangi dan Andansari tersingkap. Saat itulah terlihat bulu di kaki keduanya. Panji Laras dan Liris pun ‘ilfil’, tidak jadi menerima. Keduanya melarikan diri dengan menunggangi kuda.
Andanwangi dan Andansari merasa kecewa dan melaporkan ke ayahnya. Lalu, karena acara lamaran gagal, pecahlah perang antara Lamongan dan Worosobo.
Berdasarkan kisah itulah warga setempat memberlakukan tradisi perempuan melamar laki-laki. Budaya itu kemudian dilestarikan sebagai budaya leluhur yang masih terjaga hingga kini.*





