Mengenal Sun Dog, Fenomena Langka ketika “Matahari Kembar” Menampakkan Keindahan yang Menakjubkan

Dokumebtasi Space.com merekam fenomena sun dog di kutub utara. Fenomena serupa juga bisa terjadi di negara-negara tropis seperti Indonesia.(Space.com)

Sun dog terjadi karena adanya kristal es berbentuk heksagonal di awan sirus, yang terletak tinggi dan dingin. Mungkin juga karena kristal es “diamond dust” yang melayang di udara pada ketinggian rendah selama kondisi cuaca yang sangat dingin. Kristal-kristal es ini umumnya berbentuk prisma yang memecah cahaya matahari menjadi spektrum warna yang berbeda—mirip dengan apa yang terjadi dalam pelangi.

Ketika cahaya matahari melewati kristal-kristal es ini, cahaya yang dibiaskan akan terfokus pada sudut tertentu, sehingga menciptakan efek optik yang memukau—bahkan cenderung membingungkan manusia. Sun dog bisa terlihat sebagai cahaya berwarna di sebelah kanan atau kiri matahari, terletak sekitar 22 derajat atau lebih jauh, pada ketinggian yang sama dengan matahari di horizon.

Sementara itu, menurut laman Britannica, setiap sisi kristal memiliki jaring pembiasan, di mana cahaya dipencarkan dan tersebar menjadi spektrum warna. Sudut minimum deviasinya sekitar 22 derajat dan tidak ada satu sudut pembiasan tunggal yang melewati setiap kristal. Hal tersebut berkaitan dengan jarak maksimum dari sun dog ke matahari saat sun dog berada pada posisi terendah di langit. 

Ketika matahari naik, cahaya yang melewati kristal menjadi lebih tegak lurus terhadap bidang horizontal. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan sudut deviasi dan sun dog mulai menjauh dari matahari. Namun, ketinggiannya tetap sama dengan matahari.

Bacaan Lainnya
Sun Dog di Daerah Tropis

Lalu, bagaimana fenomena sun dog bisa terjadi juga di kawasan tropis yang tak memiliki es, seperti Indonesia? 

Soal ini, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau, Yudha Nugraha, menyebut bahwa fenomena sun dog itu adalah fenomena yang biasa terjadi karena faktor peralihan musim hujan ke kemarau. Dilansir dari Detiksumut, Yudha menjelaskan, sun dog muncul ketika adanya pembiasan atmosfer di partikel hidrometeorologis atau partikel basah seperti es.

“Sehingga ini akan membiaskan matahari dipermukaan bumi yang muncul seperti pola matahari menjadi dua. Dan ini biasanya terjadi pada peralihan musim hujan ke kemarau. Jadi, hal ini adalah hal biasa,” terang Yudha.

Di Indonesia, Yudha melanjutkan, sun dog sering dan lumrah terjadi. Peristiwa ini didukung oleh kondisi atmosfer langit yang melembab dan basah.

“Di Indonesia, fenomena ini sudah sering dan lumrah terjadi. Dia muncul ketika terjadinya peralihan musim hujan ke kemarau, atau sebaliknya. Juga didukung kondisi atmosfer langit yang melembab dan basah, yang memungkinkan itu (sun dog) terjadi. Jadi, kami harap jangan sampai fenomena itu dikaitkan dengan akan muncul bencana. Fenomena ini adalah hal biasa,” tegasnya.◼︎

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *