Kembali ke Jatim, Dekananto Membawa Misi Polisi yang Lebih Merakyat

Kapolda Jatim
Kapolda Jatim Irjen Pol Dekananto Eko Purwono. - Tribata News Jatim

Dua tahun setelah meninggalkan kursi intelijen Polda Jatim, Dekananto Eko Purwono pulang sebagai Kapolda. Pesan pertamanya: polisi harus lebih dekat dengan warga.

Irjen Pol Dekananto Eko Purwono tidak datang ke Markas Polda Jawa Timur sebagai orang asing. Minggu (11/10/2026), putra Bojonegoro itu resmi diterima sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur.

Ia membawa dua janji sekaligus: menjaga kondusivitas Jawa Timur dan menjadikan polisi lebih dekat dengan masyarakat. Baginya, jabatan ini lebih dari sekadar penugasan dinas.

“Kehadiran saya di Polda Jawa Timur ini adalah amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujar Dekananto kepada wartawan di Mapolda Jatim.

Bacaan Lainnya

Kursi itu ia peroleh lewat mutasi besar yang diteken Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto pada awal Oktober. Dekananto menggantikan Irjen Nanang Avianto, yang kini dipindahkan menjadi Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri.

Kariernya melaju cepat. Pada 2 September lalu, ia baru menyandang bintang dua saat masih menjabat Wakil Kapolda (Wakapolda) Metro Jaya. Sebulan kemudian, ia sudah memimpin salah satu polda tipe A di Indonesia.

Meski begitu, Dekananto tidak datang untuk membongkar yang sudah ada. Ia memastikan akan meneruskan program pendahulunya.

“Banyak hal yang telah diperbuat untuk masyarakat Jawa Timur oleh beliau. Tentu akan saya lanjutkan,” ujarnya.

Merakyat dan Siap Dikoreksi

Arah kepemimpinannya mengikuti tagline Kapolri Suyudi, yakni polisi bersama masyarakat. Dekananto menerjemahkannya menjadi sikap jajaran di lapangan.

“Tentunya jajaran Polda Jawa Timur lebih mendekatkan, lebih merakyat, lebih bersahabat dan lebih bermanfaat bagi masyarakat Jawa Timur,” ungkap Dekananto.

Ia juga membuka pintu kritik sejak hari pertama. Dekananto lebih dulu meminta maaf bila dirinya atau jajarannya keliru bertindak, lalu meminta warga tidak segan memberikan koreksi.

“Kami pastikan akan merespons dan menindaklanjuti,” sambungnya.

Jejak di Tengah Konflik Tugu Silat

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994 itu lama menekuni bidang Intelijen dan Keamanan (Intelkam). Pada Februari2022, ia masuk Polda Jatim sebagai Direktur Intelkam setelah bertugas di Badan Intelkam Polri.

Masa itu jauh dari tenang. Panglima Kodam V/Brawijaya kala itu, Mayjen TNI Farid Makruf, mencatat sekitar 400konflik antarperguruan silat atau antara warga dan perguruan silat di Jatim sepanjang 2021–2023. Tugu perguruan disebut sebagai salah satu pemicunya.

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jatim kemudian menerbitkan surat edaran pada 26 Juni 2023. Isinya meminta setiap perguruan membongkar tugunya secara mandiri.

Tidak semua tugu dirobohkan. Di Tuban dan Ponorogo, sebagian tugu dialihfungsikan menjadi Tugu Pancasila agar warga perguruan tidak merasa kehilangan simbol yang mereka bangun dengan iuran sendiri.

Dalam pusaran itulah Dekananto disebut berperan. Bersama Bakesbangpol, ia dikenal ikut memelopori penertiban 686 tugu yang berdiri tanpa izin di atas tanah negara, serta menggagas dialog antarkelompok suporter sepak bola.

Kini ia kembali dengan pangkat dan beban yang jauh lebih besar. Di ujung pernyataannya, Dekananto memohon doa dan dukungan warga.

“Insya Allah dari lubuk hati yang paling dalam, saya akan layani apa yang menjadi harapan masyarakat Jawa Timur,” ujarnya.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan