Kelelahan menetap dan sendi kaku dapat menyertai penyakit autoimun. Namun, keluhan tersebut tidak cukup untuk memastikan diagnosis, dan pengobatan berbeda menurut jenis penyakitnya.
Gejala penyakit autoimun dapat menyerupai keluhan sehari-hari, termasuk kelelahan dan nyeri sendi. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya Dede Nasrullah mengingatkan agar keluhan yang menetap tidak diabaikan.
Dede menyebut salah satu keluhan yang perlu diperhatikan adalah “kelelahan ekstrem yang tidak kunjung membaik meski sudah cukup istirahat”.
Keterangan tersebut disampaikan Dede pada Jumat, 7 Agustus 2026, dan dimuat di laman resmi universitas pada 8 Agustus 2026.
“Pasien juga sering merasakan nyeri dan sendi kaku pada pagi hari,” kata Dede.
Ia menjelaskan bahwa faktor genetik dan lingkungan dapat berperan dalam munculnya penyakit autoimun. Dede juga menekankan pentingnya pengobatan, pemeriksaan rutin, dan kebiasaan hidup sehat untuk membantu pasien mempertahankan aktivitas sehari-hari.
Gejala Berbeda Menurut Penyakit
Autoimun merupakan kelompok penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri. Salah satu jenisnya adalah lupus eritematosus sistemik, yang dapat memengaruhi kulit, sendi, ginjal, serta organ lainnya.
Menurut Institut Nasional Artritis serta Penyakit Muskuloskeletal dan Kulit Amerika Serikat (NIAMS), gejala lupus dapat mencakup kelelahan, demam, nyeri sendi, dan kerontokan rambut.
Ruam berbentuk kupu-kupu di pipi dan hidung juga dapat muncul pada lupus. Karena itu, ruam tersebut perlu dijelaskan dalam konteks lupus, bukan sebagai gejala yang muncul pada seluruh penyakit autoimun.
Keluhan seperti kelelahan atau nyeri sendi saja belum memastikan seseorang mengalami autoimun. Diagnosis lupus, misalnya, memerlukan penilaian riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang oleh dokter.
Pengobatan Tidak Seragam
Penanganan penyakit autoimun disesuaikan dengan jenis penyakit, gejala, dan organ yang terdampak. Pada lupus, pengobatan bertujuan mengendalikan penyakit dan mencegah komplikasi, disertai pemantauan rutin.
Penggunaan obat penekan sistem imun tidak berlaku sebagai terapi utama untuk semua penyakit autoimun. Diabetes melitus tipe 1, misalnya, membutuhkan insulin untuk mengendalikan kadar gula darah.
Dede menganjurkan pengelolaan stres, istirahat cukup, dan aktivitas fisik ringan sebagai bagian dari perawatan. Kebiasaan tersebut perlu berjalan bersama pengobatan dan kontrol kesehatan rutin.
Pada lupus, pasien dapat mengalami masa kekambuhan dan remisi, ketika gejala mereda. Dengan pengobatan, banyak pasien dapat mengendalikan penyakitnya.***