Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) mengeluarkan peringatan keras terkait kondisi stabilitas ekonomi nasional yang dinilai mulai menunjukkan tanda-tanda awal krisis finansial (sovereign financial crisis).
Penurunan outlook kredit Indonesia oleh Moody’s serta fenomena terhentinya arus modal asing secara mendadak (sudden stop capital flows) menjadi sinyal merah yang menuntut respons cepat dan konkret dari pemerintah.
Dalam diskusi The Forum Investor Daily Roundtable di Jakarta, Rabu (11/2/2026), Ekonom Makroekonomi LPEM FEB UI sekaligus anggota AEI, Teuku Riefky, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap situasi pasar keuangan saat ini. Menurutnya, Indonesia tengah berada di titik krusial di mana kepercayaan investor global mulai goyah, terlihat dari laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan penilaian lembaga pemeringkat internasional.
”Hal yang saya khawatirkan adalah ini tanda-tanda awal krisis finansial. Kita berada di titik sudden stop dari capital flows, di mana arus modal asing terhenti drastis dan memicu risiko depresiasi nilai tukar serta jatuhnya harga aset,” tegas Riefky.
Ia juga menyoroti sikap pemerintah yang dinilai masih menunjukkan penyangkalan (denial) terhadap kerentanan fundamental ekonomi. Riefky memperingatkan bahwa jika tidak ada reformasi kebijakan yang menyeluruh, Indonesia berisiko mengalami penurunan rating kredit. Dampaknya akan sangat sistemik:
Beban Utang Membengkak
Penurunan rating akan memaksa pemerintah menaikkan imbal hasil (yield) surat utang, yang secara otomatis meningkatkan beban fiskal.
Krisisi Likuiditas Lembaga
Penurunan nilai aset surat utang negara dapat mengganggu solvensi institusi yang diwajibkan memegang instrumen tersebut, seperti BPJS dan perusahaan asuransi.





