Gelombang Demo Krisis Hunian dan Biaya Hidup Guncang Eropa

Anggota kelompok mahasiswa sayap kanan berpawai melintasi jalan-jalan di Roma pada hari Sabtu, 24 Oktober 2026, dalam sebuah demonstrasi bertajuk "Unlock Everything". Aksi ini diselenggarakan untuk menentang protes mahasiswa sayap kiri baru-baru ini dan merupakan satu dari sejumlah demonstrasi yang digelar oleh berbagai kelompok dari seluruh spektrum politik. (Gregorio Borgia/AP)

Krisis perumahan dan lonjakan biaya hidup memicu gelombang demonstrasi yang berujung pada bentrokan dengan aparat keamanan di berbagai negara Eropa, termasuk Portugal dan Italia.

Pemimpin Blok Kiri (BE) Portugal, José Manuel Pureza, menyoroti rentetan aksi unjuk rasa krisis hunian yang memicu kericuhan dengan aparat di sejumlah negara Eropa. Protes menentang melambungnya biaya hidup ini menjalar luas sejak akhir pekan lalu.

Mahasiswa komunikasi multimedia, Vitor Gomes, menyatakan bahwa spekulasi perumahan telah menyulitkan kehidupan generasi muda. Ribuan pemuda merespons lonjakan harga properti ini dengan mendirikan perkemahan di pusat kota.

“Spekulasi perumahan, pemusatan kekayaan, dan ketimpangan yang terus meningkat membuat saya merasa pesimistis terhadap masa depan,” ujar Gomes di Lisbon.

Bacaan Lainnya

Pembubaran Paksa di Lisbon

Ihwal krisis perumahan ini, Kepolisian Keamanan Publik (PSP) Portugal sebelumnya berjanji mengedepankan pendekatan damai serta dialog. Namun, bentrokan fisik tak terhindarkan ketika petugas akhirnya membubarkan paksa para demonstran.

Puluhan polisi beserta anjing pelacak mengepung lokasi dan membongkar tenda di Alun-alun Rossio pada Ahad dini hari, 25 Oktober 2026. Sejumlah orang ditangkap dan beberapa peserta aksi dilaporkan menderita cedera.

Kericuhan Landa Italia

Selain itu, gelombang demonstrasi yang menentang perang dan kenaikan harga barang juga meledak di Italia pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Pengunjuk rasa terlibat kericuhan dengan petugas keamanan di wilayah Turin dan Roma.

Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, merespons eskalasi tersebut dengan mengerahkan 500 tentara tambahan ke Milan. Kepolisian setempat turut menggunakan pesawat nirawak untuk memantau pergerakan massa perusuh.

Banyak pemilik butik mewah di distrik mode Milan memilih menutup etalase depan mereka dengan papan kayu. Langkah pencegahan ini diambil guna menghindari penjarahan berulang seperti yang terjadi pada pekan sebelumnya.

Merembet ke Prancis dan Spanyol

Sebelumnya, aksi serupa turut mengguncang Prancis ketika sekitar 35 ribu demonstran turun ke jalan untuk memprotes kondisi ekonomi. Kepolisian setempat menahan 135 orang menyusul kerusuhan di berbagai titik.

Di Madrid, Spanyol, puluhan ribu warga berpawai menuntut perlindungan dana pensiun publik dari ancaman privatisasi. Sementara di Albania, aparat menembakkan meriam air ke arah mahasiswa yang memprotes korupsi pendidikan.

Anggota dewan dari Partai Komunis (PCP) di Lisbon, João Ferreira, menilai langkah pemerintah saat ini justru memperburuk spekulasi properti. Ia menyebut kebijakan tersebut membuat akses perumahan semakin sulit dijangkau.

“Hal ini tidak mungkin tidak memicu kemarahan,” kata Ferreira.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan