Sebanyak 16 pelajar Indonesia telah menjalani presentasi dan wawancara daring. Mereka membawa riset pertanian, lingkungan, hingga kesehatan, dengan hasil diumumkan November.
Abu Amar, Koordinator Pembina Young Inventors Challenge (YIC) 2026 dari Institut Teknologi Indonesia, menyatakan delapan tim pelajar Indonesia lolos ke 32 besar kompetisi tersebut. Pengumuman pemenang dijadwalkan pada November 2026.
“Selanjutnya, penelitian dari kesembilan tim dikirimkan dan sebanyak delapan tim berhasil melaju ke tahap 32 besar,” kata Abu dalam siaran pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Selasa, 20 Oktober 2026.
Delapan tim beranggotakan 16 murid pendidikan menengah itu telah mengikuti presentasi dan wawancara utama secara daring pada Sabtu, 17 Oktober. Mereka mengusung penelitian teknologi, pertanian, lingkungan, dan kesehatan.
Delegasi Indonesia mendapat pembinaan dari Pusat Pengembangan Prestasi dan Karakter (Puspreska) Kemendikdasmen. Persiapannya bermula dari peserta pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025.
Sebanyak 12 tim yang terdiri atas 24 murid mengikuti prapembinaan pada 2–6 Maret 2026 di Jakarta. Mereka mendapat pendampingan penyempurnaan proposal, visualisasi produk, serta latihan penyampaian hasil penelitian.
Menurut Abu, proses tersebut menyaring peserta menjadi sembilan tim. Delapan di antaranya kemudian berhasil melewati seleksi menuju 32 besar YIC 2026.
Riset dari Sawah hingga Kesehatan
Tim PORTIS dari SMA Negeri 1 Sumenep mengembangkan DRAVIS, teknologi pesawat nirawak untuk memantau dan mendeteksi penangkapan ikan ilegal. Tim ini beranggotakan Cameela Ahmad dan Shaheza Aleesha Risky.
Dari SMA Negeri 2 Ponorogo, Hanin Naurayani Alifa dan Khariza Fazari Shafiya dalam tim Tirto’s User mengembangkan TIRTO. Penelitian mereka berupa sistem irigasi sawah otomatis berbasis kecerdasan buatan.
Sementara itu, tim AGRITEVO dari SMAS Islam Athirah, Sulawesi Selatan, meneliti inkubator kecambah padi dengan perangkat terhubung internet dan energi surya. Anggotanya Muhammad Rijal dan Salwa Salsabila Az.
“Tujuannya untuk meminimalisir kegagalan para petani dalam tahap penyemaian benih padi,” kata Rijal.
Penelitian perlindungan material dibawa tim ChemisTwin dari SMA Nasional KPS, Kalimantan Timur, melalui NANOVA. Safira Laksmi Dewi dan Prayogo Aryobimo meneliti pelapis penolak air untuk melindungi baja.
Tim SCAB dari SMA Negeri 6 Yogyakarta membawa EnviroSmart Device. Revalina Marbun dan Kayra Naurin Aqueeni mengembangkan perangkat pemandu cerdas dan pemberitahuan darurat bagi penyandang tunanetra.
Di bidang kesehatan, tim AKU DAH LUPA dari MAN 2 Kota Malang mengembangkan AlzScan. Fathan Abdillah Al Attar dan Fachry Bahtiar Rahadiansyah meneliti sistem pendeteksi Alzheimer melalui analisis citra pencitraan resonansi magnetik atau MRI.
Tim SYFORCE dari MAN Insan Cendekia Pekalongan meneliti SIMUFLEX, perangkat pakai pengukur kelengkungan tulang belakang. Anggotanya Muhammad Sulthan Fadhil Ardani dan Alrizta Winant Maliki Herdyanto.
Adapun Muhammad Bagir dan Xahida Xena Xanadu Adam Talib dari SMA Negeri 8 Jakarta tergabung dalam tim DewaCerva. Mereka meneliti potensi nanopartikel berbasis ekstrak daun dewandaru untuk penelitian terapi kanker serviks.
Menunggu Pengumuman November
YIC diselenggarakan Association of Science, Technology, and Innovation (ASTI). Kompetisi ini mendorong pelajar sekolah menengah bekerja sama mengembangkan solusi atas berbagai persoalan, termasuk tujuan pembangunan berkelanjutan.
Menurut penyelenggara, YIC 2026 dilaksanakan sepenuhnya secara daring. Sementara itu, Kemendikdasmen mencatat rangkaian kegiatan delegasi Indonesia berlangsung pada 12–19 Oktober di Jakarta.
Kepala Puspreska Rusprita Putri Utami mengatakan pengembangan talenta membutuhkan pendampingan berkelanjutan. Murid perlu mendapat kesempatan untuk mengenali dan mengembangkan potensinya melalui penelitian.
Kini, delegasi Indonesia menunggu hasil penilaian yang dijadwalkan diumumkan pada November. Abu berharap pembinaan dan persiapan yang telah dijalani menghasilkan capaian terbaik.
“Anak-anak sudah berusaha semaksimal mungkin,” kata Abu. ***





