Kabut Asap Palembang: BNPB Pertimbangkan Lanjutkan Es Kering, Efektivitas Masih Dievaluasi

Ilustrasi uji coba dry ice karhutla. (AI Generate) 

BNPB mempertimbangkan melanjutkan penyemaian es kering untuk mengurangi kabut asap di Sumatera Selatan. Jarak pandang dilaporkan membaik, tetapi pengaruh penyemaian masih perlu dipisahkan dari perubahan cuaca alami.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuka kemungkinan melanjutkan operasi modifikasi cuaca menggunakan es kering di Sumatera Selatan hingga hujan turun. Pemerintah juga mengevaluasi peluang penerapan metode tersebut di wilayah lain yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.

Kepala BNPB Kristomei Sianturi menyampaikan hal itu setelah rapat koordinasi penanganan karhutla di Palembang, Minggu (18/10/2026), sebagaimana dikutip kembali pada Senin (19/10).

“Kalau bisa kita lakukan terus-menerus, seefektif mungkin sehingga sampai hujan turun dan apinya padam,” katanya.

Bacaan Lainnya

Sejauh mana jarak pandang membaik?

BNPB sebelumnya melaporkan penggunaan 2,4 ton es kering dalam tiga sorti penerbangan pada 15–16 Oktober 2026. Pesawat diberangkatkan dari Bandara Raden Inten II, Lampung, dengan total waktu terbang tujuh jam tiga menit.

Menurut Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, operasi diarahkan untuk membantu mengatasi asap yang mengganggu penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.

Data pengamatan yang disampaikan BNPB menunjukkan jarak pandang meningkat dari 1.000 meter pada pukul 13.00 WIB menjadi 1.500–2.000 meter beberapa jam kemudian. Setelah penerbangan berikutnya, jarak pandang dilaporkan mencapai 2.800–3.000 meter.

Namun, Berton menegaskan penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui seberapa besar peran es kering dibandingkan faktor meteorologis lainnya.

Dalam perkembangan berikutnya, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyebut jarak pandang sempat mencapai 6.000 meter.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II, Siswanto, memberikan gambaran bahwa kondisi masih berubah-ubah. Menurutnya, jarak pandang sempat berada di sekitar dua kilometer, kemudian meningkat menjadi tiga hingga empat kilometer setelah pukul 11.00 WIB pada Minggu. Kondisi dapat kembali memburuk menjelang malam.

Bagaimana es kering diharapkan bekerja?

Penyemaian ini ditujukan untuk memengaruhi lapisan inversi, yakni ketika udara hangat berada di atas udara yang lebih dingin sehingga menghambat pergerakan udara ke atas. Asap kemudian dapat terkonsentrasi dekat permukaan.

Es kering merupakan karbon dioksida padat bersuhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Saat berubah menjadi gas, bahan ini menyerap panas dari lingkungan.

Pendinginan setempat diharapkan membantu pencampuran udara secara vertikal. Namun, perekayasa BRIN Florentinus Heru Widodo mengatakan mekanisme tersebut masih merupakan hipotesis yang perlu diuji melalui pengamatan. Perubahan suhu pada satu lokasi belum tentu cukup untuk melemahkan lapisan inversi yang luas.

Pemadaman sumber api tetap diperlukan

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyatakan operasi udara akan berjalan bersama pemadaman darat dan koordinasi lintas instansi.

Membaiknya jarak pandang belum menunjukkan seluruh sumber kebakaran telah padam. Evaluasi juga perlu mencakup kualitas udara, kondisi atmosfer, dan pencegahan kebakaran berulang.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan