Tim gabungan dan pihak keluarga terus menyisir perairan Selat Sunda. Cuaca terpantau tenang, namun jejak delapan korban erupsi Gunung Anak Krakatau belum ditemukan.
Kapten Kapal Arupadathu 02 Dedi menyatakan penyisiran hari ketiga di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau belum membuahkan hasil. Delapan orang, termasuk lima jurnalis yang meliput erupsi, masih berstatus hilang kontak. “Hasilnya belum ada. Belum ada tanda-tanda,” kata Dedi usai melakukan pencarian laut di Banten, Kamis, 10 September 2026.
Operasi pencarian memakan waktu tempuh 1,5 jam dari Dermaga Marina Lippo Carita. Tim menyisir tiga lokasi utama selama empat jam sejak pukul 09.00 WIB, yakni Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Rakata. Selain membawa tim SAR, Kapal Arupadathu 02 turut mengangkut delapan anggota keluarga korban.
Mereka merupakan kerabat dari kapten perahu cepat Warta dan anak buah kapal Surakman yang ikut hilang. Dedi memastikan operasi maritim ini berjalan lancar berkat kondisi alam yang bersahabat. Ombak dan angin di perairan tersebut relatif tenang sehingga kapal dapat bergerak tanpa kendala.
“Kalau cuaca hari ini normal, tidak ada masalah dengan ombak dan lain-lain. Kondisi ombak dan angin bagus, alhamdulillah,” ujarnya. Selain jalur laut, tim SAR mengerahkan satu unit helikopter Dauphin AS365 N+ untuk memantau dari udara. Armada pembawa tujuh personel ini lepas landas dari Pangkalan Udara Atang Sendjaja pada pukul 12.36 WIB.
Kecurigaan di Pulau Sertung
Sebelumnya, fokus pencarian di area Pulau Sertung bermula dari foto kiriman pemandu wisata Heriyanto. Foto Anak Krakatau itu masuk ke grup WhatsApp pada Senin petang ketika ponselnya tiba-tiba menangkap sinyal. Istri jurnalis ANTARA Bagus Khoirunnas, Desi, menduga rombongan singgah di pulau yang berjarak tiga kilometer dari kawah tersebut.
Ia telah mendesak Gubernur Banten Andra Soni agar tim SAR memeriksa daratan Sertung. Ihwal kendala pelacakan, Kepala Subbagian Umum Basarnas Lampung Zulkarnain Siagian menyebut ketiadaan sinyal marabahaya amat menyulitkan tim. Meski begitu, puluhan personel dengan armada Rigid Inflatable Boat terus bermanuver.
Seluruh operasi dipastikan akan terus berlanjut memanfaatkan stabilitas cuaca di lapangan. “Cuaca masih memungkinkan dan aktivitas gunung juga masih memungkinkan kami melaksanakan operasi,” kata Zulkarnain. ***





