Hari Ketiga, Tim SAR Alihkan Pencarian Jurnalis Hilang ke Utara Anak Krakatau

Personel TNI AL dalam operasi pencarian delapan orang yang hilang di perairan Krakatau. (Istimewa)

Sembilan armada dikerahkan mencari Speedboat Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis dan tiga awak. Sektor selatan hingga radius 15–20 mil laut dinyatakan telah disisir.

Tim SAR gabungan memperluas pencarian Speedboat Arupadhatu 1 ke perairan utara Gunung Anak Krakatau pada Kamis, 10 September 2026. Kapal yang membawa lima jurnalis dan tiga awak itu belum ditemukan setelah kehilangan kontak sejak Senin petang.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan perubahan sektor dilakukan setelah tim menyisir perairan selatan Anak Krakatau selama dua hari pertama operasi.

“Posisi Anak Krakatau sudah dikelilingi. Kalau kita tarik dengan radius, itu kurang lebih sampai dengan 15 sampai 20 nautical mile dari Anak Krakatau,” kata Al Amrad.

Bacaan Lainnya

Perluasan wilayah pencarian mempertimbangkan pergerakan arus, gelombang, dan arah angin. Tim memperkirakan kapal dapat terbawa menjauh dari lokasi kontak terakhir apabila mengalami mati mesin atau gangguan navigasi.

Sembilan Armada Dikerahkan

Sebanyak sembilan armada laut dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, dan unsur pendukung dikerahkan dalam operasi hari ketiga. TNI AL antara lain mengoperasikan KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861.

Pencarian melalui udara belum dipastikan karena harus menyesuaikan cuaca, jarak pandang, dan aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Pemanfaatan pesawat nirawak juga terbatas oleh jangkauan kendali dan kondisi angin di tengah laut.

Hingga pencarian hari kedua berakhir pada Rabu petang, tim belum menemukan kapal, penumpang, barang, maupun serpihan yang dapat dikaitkan dengan Arupadhatu 1.

Speedboat sepanjang sekitar tujuh meter tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September, sekitar pukul 14.00 WIB. Rombongan hendak mendokumentasikan aktivitas erupsi Anak Krakatau.

Pesan terakhir diterima keluarga salah seorang jurnalis pada pukul 18.13 WIB. Pesan itu mengabarkan rombongan telah tiba di perairan sekitar Anak Krakatau. Setelah itu, kapal tidak dapat dihubungi.

Laporan Diterima Hampir 20 Jam Kemudian

Basarnas Banten baru menerima laporan kehilangan pada Selasa pukul 13.55 WIB, sekitar 19 jam 42 menit setelah komunikasi terakhir. Tim kemudian memulai penyisiran di sekitar Anak Krakatau, Pulau Sebesi, dan jalur pelayaran menuju Carita.

Delapan orang di dalam kapal terdiri atas lima jurnalis dari ANTARA, Merdeka.com, iNews, Anadolu Agency, dan seorang pewarta lepas, serta seorang nakhoda, seorang anak buah kapal, dan seorang pemandu.

Komunikasi rombongan yang diketahui publik sejauh ini menggunakan telepon seluler. Belum ada keterangan resmi mengenai keberadaan radio maritim, perangkat pelacak, suar darurat, dokumen kelaiklautan, serta jumlah perlengkapan keselamatan di kapal.

Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pelaut dilarang mendekati kawah dalam radius tiga kilometer. Aktivitas gunung dan abu vulkanik juga menjadi pertimbangan keselamatan selama pencarian berlangsung.

Operasi SAR dilanjutkan sepanjang Kamis dengan memusatkan penyisiran pada sektor utara dan jalur yang diperkirakan mengikuti pergerakan arus Selat Sunda.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan