Lampung Catat 2.416 Kasus ISPA di Tengah Sebaran Abu Krakatau

Dampak Karhutla
Ilustrasi ISPA. (Pinterest)

Wakil Gubernur Lampung mengumumkan 2.416 kasus ISPA di tengah paparan abu vulkanik Anak Krakatau. Lonjakan pasien di Bandar Lampung mencapai 36 persen.

Wakil Gubernur Pemerintah Provinsi Lampung Jihan Nurlela mencatat 2.416 kasus infeksi pernapasan akut di tengah sebaran abu vulkanik. Data ini dihimpun dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga Selasa, 8 September 2026.

Mengenai pengumpulan data tersebut, laporan masuk secara daring dan seketika melalui Dinas Kesehatan. Laporan ini bersifat sementara dan akan terus diperbarui seiring perkembangan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Data yang baru dihimpun secara daring oleh Dinas Kesehatan secara seketika hari ini. Tentu kami juga tetap melakukan pembaruan data tiap hari,” kata Jihan Nurlela di Pusat Pengendalian Operasi BPBD Lampung, Selasa, 8 September 2026.

Bacaan Lainnya

Pembelajaran Daring dan Penyakit Lain

Menyikapi pergerakan abu menuju Teluk Lampung, pemerintah memperpanjang masa pembelajaran jarak jauh hingga 10 September 2026. Sekolah diminta memanfaatkan masa belajar daring untuk membersihkan ruang kelas dari debu vulkanik.

Selain infeksi pernapasan, pemerintah turut mencatat 23 kasus pneumonia, 67 asma, serta puluhan keluhan penyakit kulit. Fasilitas kesehatan di kawasan pesisir dipastikan siaga melayani warga dengan persediaan medis memadai.

Laju Lonjakan Bandar Lampung

Terkait lonjakan data spesifik, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung Muhtadi Arsyad Tumenggung mencatat penambahan 189 penderita. Kasus infeksi pernapasan di wilayahnya naik 36 persen menjadi 716 pasien dalam tiga hari.

Lonjakan pasien tertinggi terpantau di Kecamatan Telukbetung Timur. Muhtadi memastikan validasi data terus berjalan, meski hubungan sebab-akibat antara abu vulkanik dan penyakit pernapasan ini masih diteliti secara medis.

“Peningkatan kasus bertepatan dengan erupsi Anak Krakatau. Namun, berdasarkan data jangka pendek ini, kami belum bisa menyatakan definitif bahwa debu vulkanik menjadi penyebab langsungnya,” kata Muhtadi.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan