Sewa iPhone Laris Manis Jelang Lebaran, Pengamat Ingatkan Bahaya Psikologis Jangka Panjang

Ilustrasi. | Istimewa
Beberapa tahun belakangan, jasa sewa iPhone laris manis di akhir Ramadan jelang Lebaran. Orang-orang menyewanya untuk ditenteng ketika buka bersama atau bersilaturahmi kala Lebaran. Pakar menyebutnya sebagai fenomena simbolik semu, yang menunjukkan bahwa banyak orang mengalami krisis identitas dan menolak kenyataan.

Untuk memahami fenomena ini, Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Drajat Tri Kartono, memulainya dengan menjelaskan dua fungsi teknologi.

Fungsi pertama, teknologi digunakan berdasarkan nilai gunanya. Misalnya, teknologi telepon seluler atau ponsel untuk berkomunikasi.

Sementara fungsi kedua, teknolgi sebagai simbol, yang diyakini bisa menunjukkan kelas sosial seseorang.

Menurut Drajat, tren sewa iPhone dapat dijelaskan dalam konteks fungsi kedua tersebut. Ketika seseorang membawa iPhone, dia merasa ‘beda’ dengan kelompok lain karena merasa menggunakan perangkat mahal.

Bacaan Lainnya

“Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pengakuan lebih besar dari kebutuhan akan komunikasi,” kata Drajat.

Fenomena Hiprerrealitas

Pada bagian lain, dosen Sosiologi-Antropologi UNS Nurhadi menyebut, tren sewa iPhone ini merupakan sebuah fenomena hiperrealitas. Realitas yang dilebih-lebihkan. Sebuah budaya di mana masyarakat melihat realitas dan fantasi secara kabur atau tidak jelas.

Yang dimaksud “realitas” dalam konteks ini adalah kondisi seseorang sebenarnya dan apa yang dimilikinya apa adanya.

Menurut Nurhadi, dalam pandangan ini, setidaknya ada tiga motif kenapa seseorang menyewa iPhone.

Pertama, karena tak percaya diri dengan realitas yang dimilikinya.

Kedua, karena merasa perlu mengabadikan momen secara lebih bagus dari aslinya. Pasalnya, kualitas gambar kamera iPhone diyakini banyak orang lebih bagus dari kamera ponsel lain.

Motif ketiga adalah untuk meningkatkan portofolio. Maksudnya, orang menyewa iPhone untuk memotret produk yang dia jual agar lebih bagus dari aslinya.

Fenomena sosial ini sebenarnya dapat dipahami untuk jangka pendek. Namun, untuk jangka panjang, kata Nurhadi, bakal jadi masalah.

“Secara psikologis, hal ini tidak bagus, karena akan membuat orang sampai ke titik di mana dia tidak menyukai dan mempertanyakan diri sendiri,” ujarnya.

Orang akhirnya menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan hanya untuk mendapat pengakuan. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *