Pemprov Jatim perkuat peran sebagai lumbung protein nasional lewat panen bandeng pesisir Gresik.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mengukuhkan perannya sebagai lumbung protein nasional melalui penguatan sektor perikanan budidaya berbasis pesisir. Penguatan tersebut ditunjukkan melalui panen bandeng di Kampung Perikanan Budidaya (KPB) “Kampung Bandeng” Desa Pangkhah Wetan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Selasa, 27 Januari 2026.
Panen bandeng tersebut dilakukan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono, sebagai bagian dari upaya penguatan ketahanan pangan nasional berbasis protein ikan.
Menko Pangan Zulkifli Hasan menilai, keberhasilan Kampung Bandeng Pangkhah Wetan mencerminkan potensi besar sektor perikanan budidaya dalam mendukung ketahanan pangan nasional, terutama sebagai sumber protein yang terjangkau dan berkelanjutan.
“Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada beras. Protein ikan menjadi komponen penting, dan kawasan seperti Pangkhah Wetan menunjukkan bahwa perikanan budidaya mampu menjadi tulang punggung pasokan protein nasional,” ujar Zulkifli.
Penguatan kelembagaan menjadi salah satu faktor penopang keberlanjutan kawasan. Saat ini terdapat 26 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan), lima kelompok pengolah dan pemasar (poklahsar), serta tujuh kelompok usaha bersama (KUB) nelayan yang berperan mendorong hilirisasi, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pasar.
Kampung Bandeng Pangkhah Wetan telah ditetapkan sebagai kawasan strategis perikanan budidaya melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 64 Tahun 2021. Kawasan ini memiliki luas wilayah sekitar 5.300 hektare, dengan potensi lahan budidaya mencapai 3.840 hektare dan luasan eksisting kampung budidaya sekitar 378 hektare.
Produksi budidaya di kawasan tersebut mencapai sekitar 20.000–25.000 ton per tahun, sementara produksi perikanan tangkap berkisar 15.000–20.000 ton per tahun. Komoditas unggulan yang dikembangkan meliputi bandeng, udang vaname, udang windu, nila salin, dan kepiting, yang menjadi sumber protein utama masyarakat.
Selain menopang pasokan pangan, kawasan ini juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja. Sedikitnya 813 pembudidaya dan 992 nelayan terlibat langsung, didukung sekitar 2.456 tenaga kerja harian, panen, dan pascapanen. Aktivitas tersebut menjadikan perikanan budidaya sebagai motor penggerak ekonomi pesisir Jawa Timur.
Sekdaprov Jatim Adhy Karyono menegaskan, Jawa Timur memiliki keunggulan struktural dalam pengembangan protein hewani berbasis perikanan, baik dari sisi luas kawasan budidaya, kapasitas produksi, maupun ekosistem kelembagaan masyarakat pesisir.
“Perikanan budidaya, khususnya bandeng, menjadi penopang penting ketahanan pangan nasional. Jawa Timur memiliki basis produksi yang kuat dan berkelanjutan, sehingga berkontribusi nyata sebagai lumbung protein nasional,” ujarnya.
Dengan produksi yang besar, penyerapan tenaga kerja yang luas, serta pengembangan produk olahan bernilai tambah seperti bandeng tanpa duri, bandeng asap, dan otak-otak bandeng, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menilai sektor perikanan budidaya pesisir memiliki peran strategis dalam memperkuat kedaulatan pangan nasional.***





